Mantan Bupati Kebumen M Yahya Fuad Berbagi Cerita Tentang Badai yang Menguatkan

KEBUMEN, SM Network – Ibarat sebuah bahtera, keluarga mantan Bupati Kebumen Ir H Mohammad Yahya Fuad SE telah lolos dari sebuah badai besar dalam sebuah pelayaran. Badai tersebut adalah ketika Bupati Kebumen ke-34 itu harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga pada 2018 Pengadilan Tipikor Semarang memutusnya empat tahun pidana.

Ya, situasi itu sangat memukul mental keluarga besar, utamanya sang istri Hj Lilis Nuryani dan ketiga putra putrinya; dokter Faiz Allaudien Reza Mardhika, Khalisha Adelia Aziza dan Syahzada FIA. Namun keyakinan terdalam terhadap orang yang mereka hormati dan sayangi itu membuat mereka tegar menghadapi kondisi itu.

Mohammad Yahya Fuad mengakui bahwa salah satu hikmah yang dia rasakan dari proses hukum yang dia jalani adalah semakin dekatnya keluarga saat jarak terpisah. Tempaan tersebut juga yang mendewasakan anak-anaknya dalam menghadapi kehidupan.

“Tentu selalu ada hikmah di balik setiap musibah,” ujar Mohammad Yahya Fuad dalam Dialog Temanhati bertajuk “Pelangi Setelah Hujan” di Teman Hati Coffee, baru-baru ini.

Dialog episode II itu menghadirkan Mohammad Yahya Fuad bersama keluarga. Hadir mendampingi sang istri Hj Lilis Nuryani dan ketiga anaknya dokter Reza, Adelia Aziza dan Syahzada. Dialog yang dipandu oleh Sigit Asmodiwongso itu diikuti oleh puluhan anak muda serta beberapa teman sekolah Yahya Fuad.

Dalam momentum santai tersebut Yahya Fuad bercerita tentang banyak hal. Mulai seputar kisah cinta, keluarga, mengelola bisnis, hingga bagaimana awalnya dia terjun di bidang politik. Begitu juga Ny Lilis berkisah bagaimana menghadapi kenyataan sang suami tersangkut kasus hukum.

Tetapi pada intinya, keluarga yang saling menguatkan, membuat keluarga Mohammad Yahya Fuad mampu berdamai dengan keadaan. Kapal yang sempat kehilangan arah kemudian kembali berlayar hingga mampu menerjang badai.

Dokter Faiz Allaudien Reza Mardhika, sebagai anak sulung terpaksa mengambil kendali perusahaan PT Tradha (Putra Ramadhan). Sebagai seorang dokter, Reza yang semula memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan spesialis, akhirnya mengubah haluan menjadi seorang pengusaha menggantikan sang papa.

Belajar Mendalam

Reza pun belajar dengan cepat termasuk menambah ilmu dengan rajin mengikuti seminar dan kelas bisnis. Saat ini, sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Tradha, Reza mampu mengembangkan bisnis. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, Tradha dengan membuka tiga SPBU yang terletak di Pejagoan, Buluspesantren dan menyusul di Gombong. Setiap SPBU yang dibuka dilengkapi dengan minimarket Tradha Mart.

Masih di kompleks SPBU Pejagoan, PT Tradha juga membuka unit usaha baru berupa cafe Teman Hati. Cafe premium yang kekinian itu sedang ngehits di kalangan kawula muda Kebumen.

“Awalnya terpaksa, tetapi sekarang enjoy menikmati kesibukan sebagai pengusaha,” ujar dokter Reza yang mantap di dunia bisnis.

Sementara itu, Yahya Fuad memberikan pesan agar setiap akan terjun ke dalam satu bidang harus dipelajari dahulu secara mendalam. Termasuk saat memutuskan sesuatu harus dilakukan dedengan mempelajari secara tuntas. Belajar dari dirinya yang terjun ke dalam dunia politik namun tidak sempat belajar tentang suasana politik.

“Mungkin untuk tata kelola pemerintahan bisa dipelajari secata singkat, tetapi susana politik yang belum sempat belajar,” katanya.

Dengan apa yang telah menimpa dirinya, Yahya Fuad tidak serta merta melarang keluarganya terjun di dunia politik praktis. Karena politik merupakan jalan untuk memperoleh kekuasaan.

“Dengan kekuasaan itu kita dapat menggunakan agar lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang,” ujar Yahya Fuad yang menghirup udara bebas pada 21 November 2020.

Meskipun saat ini Yahya Fuad tidak memiliki kekuasaan di pemerintahan, tetapi dia masih masih ingin mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan kabupaten paling miskin di Jateng ini. Salah satunya sekarang ini dia sedang fokus untuk mengembangkan bisnis yang mudah dikloning seperti peternakan kambing maupun ayam petelor.

“Selama ini saya melihat banyak bantuan pemerintah, namun keberhasilannya sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendamping yang profesional. Banyak pendamping berasal dari sarjana baru yang secara pengalaman tidak lebih baik dari para peternak itu sendiri,” tandasnya.

Setelah sukses dengan Ascendia, melalui Tradha Foundation pihaknya akan membuka program scholarship. Tahap awal, beasiswa akan diberikan kepada 10 anak muda yang kuliah di universitas negeri di Yogyakarta.
“Untuk setiap tahun program tersebut ada kelanjutan,” katannya.

Tinggalkan Balasan