Lukisan Berbahan Empon-Empon Raih Rekor

MUNGKID, SM Network – Ismedi atau yang akrab disapa Easting Medi (44), seniman lukis asal Dusun Tinggal Wetan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, berhasil mendapat Rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) dalam kategori pelopor maha karya lukisan berbahan empon-empon (tanaman obat). Pengahargaan tersebut diserahkan langsung oleh Paulus Pangka (52), selaku ketua sekaligus pendiri LEPRID, Sabtu (13/6).

Paulus menjelaskan rekor ini diberikan kepada Medi atas semangatnya untuk tetap berkarya dan berinovasi di masa pandemi. “Wabah Covid 19 berdampak pada sendi – sendi kehidupan manusia. Salah satunya kehidupan seniman. Namun ditengah carut marutnya situasi saat ini membuat alam bawah sadar kita bergerak melahirkan ide-ide kreatif, inovatif, dengan peluang – peluang baru. Seperti Mas Medi yang menuangkan ide kreatif dan inovatifnya dengan memanfaatkan empon-empon pengganti cat pada karya lukisannya,” jelas Paulus.

Ia juga menambahkan, yang menjadikan karya Medi menarik ada pada proses dan latar belakang dibalik pembuatannya. Lukisan Medi tidak hanya bicara tentang seni tapi juga bercerita tentang toleransi. ”Tingkat keunikannya adalah pada saat prosesnya, dimana sejak menanam, memanen empon-empon hingga proses memarut, memeras, dan menuangkannya dalam maha karya yang indah dan hidup. Keunikan lainnya, karyanya spesifikasi pelukis Kepala Budha. Meskipun demikian Mas Medi bukan pemeluk agama Budha. Toleransi dan wawasan berpikir yang luas telah diwariskan leluhurnya menjadi pelajaran inspiratif bagi kita,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk mendukung gerakan pemerintah dalam memutus penyebaran Covid-19, Medi tetap mematuhi anjuran pemerintah untuk tetap dan bekerja dari rumah. Ia juga mengurangi interaksi dengan banyak orang. Sebab itu, Medi mengurangi pula kegiatannya keluar rumah seperti membeli cat akrilik yang biasanya menjadi bahan utama untuknya melukis.

Namun, keadaan ini tak lantas membuat Medi berhenti berkarya. Melihat potensi empon-empon di dusunnya yang melimpah, membuatnya memiliki ide menggunakan empon-empon sebagai bahan melukis.

“Sengaja menggunakan empon-empon, karena di lingkungan saya ini mudah dijumpai. Ada di pekarangan dan di kebun. Empon-empon sendiri kurang punya nilai ekonomi, jadi kurang di perhatikan. Saya melihat peluang disitu. Kemudian tertarik untuk memanfaatkanya. Siapa tahu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat pada umumnya dan saya khususnya,” ungkap Medi.

Sebelumnya Medi pernah menyabet beberapa penghargaan, seperti 3rd winner Cipta Kriya Grabah, Chermices Design Product Yogyakarta, juara dua Sayembara Desain Prangko pada acara National Education Day yang diselenggarakan di Bandung tahun 1995. Kemudian juara pertama lomba lukis poster Tanah merdeka Republika di TVRI Station Yogyakarta tahun 1994, dan masih banyak lagi.

Medi menuturkan, pengahargaan yang telah didapat memacunya untuk terus berkarya. “Kedepan semoga tetap eksis melukis dengan berbahan empon-empon karena ini merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Selain maksimalkan manfaatnya
untuk jamu kesehatan, juga digunakan untuk melukis. Belum tahu kedepan empon-empon bisa dibuat apalagi yang lebih kreatif,” paparnya.


Dian Nurlita

1 Komentar

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Tinggalkan Balasan