Lotre, Ajang Perupa Kota Magelang Pamerkan Karya

MAGELANG, SM Network – Lotre menjadi ajang puluhan perupa Kota Magelang dalam mewujudkan ekspresi seninya di tengah situasi pandemi Covid-19. Bukan seperti lotre yang melawan hukum, melainkan sebuah pameran seni rupa yang mengangkat lotre sebagai tema sekaligus harapan ke depan.

Bertempat di Trio Plaza Magelang, puluhan karya perupa Kota Magelang berupa lukisan, mural, dan instalasi dipamerkan sejak 28 November lalu sampai 7 Desember. Sebanyak 20 perupa dari Komunitas Magelang Ora Umum memamerkan karyanya di ajang perdana sejak pandemi Covid-19 ini.

SM/Asef F Amani – LOTRE: Beberapa pengunjung menikmati lukisan karya-karya perupa Kota Magelang yang dipamerkan di Trio Plaza Magelang bertema “Lotre” hingga 7 Desember mendatang.

M Nafi, selaku kurator Gelar Karya “Lotre” dalam pengantar pamerannya mengutip pernyataan dari sumber anonim bahwa, hidup ini seperti sebuah lotre besar, di mana hanya tiket para pemenanglah yang diperlihatkan.

“Mengangkat topik lotre, karena memang sekarang kita berada di situasi yang gambling. Masa pandemi Covid-19 membuat kita gambling, termasuk seniman gambling apakah karyanya laku atau tidak,” ujarnya di lokasi pameran, Selasa (1/12). Dia menuturkan, ruh laku seni sebagaimana ritual keseharian dengan ujung yang tidak tahu apa yang akan terjadi menjadikannya seperti lotre. Kehidupan seumpana lotre juga mengajak untuk terus bergerak menyalakan harapan.

“Bisa jadi dengan nilai-nilai yang mengalir begitu manusiawi itu melahirkan karya-karya yang tulus, berkarakter, bahkan sering mengejutkan. Kehidupan seni yang dirawat dengan ekspresi dan kreativitas seintens tarikan napas menjadikannya tampak hidup, bergairah, dan bernyawa,” katanya.

Nafi menyebutkan, setidaknya dalam satu dekade ini ia melihat perupa Kota Magelang menjalani laku kreativitas dengan atmosfir seperti ini. Tidak mengherankan jika hal ini juga melahirkan karya-karya yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, tidak terduga, bersifat kejutan, dan memantik harapan.

“Bisa jadi, sebagaimana lotre di mana perhitungan menjadi kunci dari semua permainan. Kepribadian seni para perupa ini mempunyai kelas tersendiri yang perlu diperhitungkan,” tuturnya yang sekaligus menjadi fasilitator adanya gelar karya ini. Di tengah situasi gambling laiknya lotre ini, Nafi berpesan kepada para seniman agar memiliki kekuatan dari dalam diri sendiri dulu. Hal ini diwujudkan dengan terus berkarya meski di masa sulit, sehingga dapat terhampar harapan ke depan karyanya akan menjadi berarti.

“Para peserta merupakan perupa yang tidak bisa dipandang remeh. Sebab, tidak sedikit yang sudah memiliki nama di dunia seni rupa. Banyak juga yang sudah puluhan tahun berkecimpun di seni rupa, bahkan karyanya sudah diakui di pasaran,” jelasnya.

Di momen gelar karya ini, pengunjung bisa bebas menyaksikan aneka rupa lukisan bergaya realis, surealis, maupun impresionis. Termasuk karya instalasi yang patut mendapat apresiasi.

“Sebanyak 60 persen merupakan karya baru dari peserta. Selama gelar karya, pengunjung pun bisa membelinya dan bernegosiasi dengan pelukisnya. Kebetulan sudah ada tiga karya yang laku terjual di pameran ini,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan