Lockdown atau Sosial Distancing?

KATA lockdown akhir-akhir ini sering digunakan terutama setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh WHO pada 11 Maret 2020. Lockdown merupakan penutupan akses masuk maupun keluar suatu daerah. Berdasarkan kasus di Cina dan beberapa negara lain lockdown memang dapat menekan penyebaran virus Corona tetapi beberapa negara lain yang tidak menerapkan lockdown juga mampu menurunkan penyebaran virus Corona.

Di Indonesia memilih menerapkan sosial distancing dimana masyarakat masih boleh berinteraksi asal menjaga jarak aman, namun tak sedikin beberapa wilayah dan daerah tertentu menetapkan lockdown. Tidak ada yang menjamin solusi mana yang terbaik karena semua itu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang mungkin membantu dalam merumuskan strategi mana yang terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan untuk meminimalkan kerugian secara keseluruhan kepada masyarakat.

Apabila menerapkan lockdown tentunya harus totalitas. Sebab banyak dilakukan di daerah dan di desa-desa dimana mereka menutup akses masuk bagi pendatang sedangkan masyarakatnya masih bebas keluar wilayah bahkan keluar masuk wilayah zona merah. Maka kebijakan lockdown tersebut menjadi tidak jelas kemanfaatanya dan sulit untuk dinilai antara keuntungan dan kerugianya. Bahkan ketika dilakukan lockdown secara totalitas sekalipun sebenarnya berdasarkan beberapa penelitian belum ada bukti nyata yang secara langsung mendapatkan hasil yang lebih baik.

Dengan sosial distancing sebenarnya sangat cukup untuk menghentikan penyebaran virus Corona, yang diperlukan hanyalah komitmen dan kedisiplinan. Banyaknya informasi yang beredar di sosial media baik informasi yang benar atau salah justru membuat masyarakat menjadi ketakutan berlebih, panik dan mengambil tindakan-tindakan yang keliru. Ada juga yang akhirnya mengabaikan informasi tersebut kemudian menganggap sepele dan kurang waspada sehingga menjadikan penyebaranya makin tinggi.

Lockdown, sosial distancing atau metode lain akan mampu mengatasi masalah ini hanya dengan mengenal lebih dekat karakter virus Corona tersebut. Banyak dipahami bahwa Covid-19 menyerang sistem pernafasan sehingga hanya yang mengalami gejala gangguan sistem pernafasan kemudian dilakukan pemeriksaan dan tindakan khusus. Bukti terbaru menunjukkan bahwa Covid-19 dapat memengaruhi sistem organ lain termasuk saraf, pembuluh darah, pencernaan, perkemihan, hematologis, dan sebagainya.

Cara Penularan

Pada kasus konjungtivitis atau mata merah yang setelah dilakukan pemeriksaan ternyata positif Covid-19 dan beberapa penyakit lain seperti diare, gangguan syaraf dan lainya yang awalnya tidak dilakukan tindakan protektif penanganan Covid-19 hal tersebut dapat mengakibatkan penyebaran virus yang terabaikan. Oleh karena itu bagi tenaga kesehatan harus mengikuti perkembangan terbaru dari Covid-19 karena virus baru tersebut masih banyak hal yang belum diketahui dan masih terus dilakukan penelitian.

Berdasarkan penelitian virus Covid-19 tidak hanya ada di saluran pernafasan tetapi ada di dalam pemeriksaan swab konjungtiva, tinja dan lainya. Artinya bahwa dengan memegang mata saat membersihkan kotoran mata pada pasien positif Covid-19 bisa saja menularkan jika kemudian tangan menyentuh benda lain, tinja juga berpotensi menularkan sehingga perlu diwaspadai penularanya dengan cara membersihkan dengan sabun disinfektan saat buang air besar.

Hal ini perlu diwaspadai tenaga kesehatan yang melakukan perawatan pada pasien diare, gangguan syaraf, mata atau yang lainya. Tenaga kesehatan juga perlu memahami bahwa karakter virus yang ada di luar rumah sakit dan di dalam rumah sakit ada perbedaan sehingga kewaspadaanya juga harus lebih tinggi untuk tenaga kesehatan. Begitu juga bagi masyarakat perlu mewaspadai bahwa penularan mungkin tidak hanya dari sistem pernafasan, namun bagi masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena dengan memahami karakter virus corona kita jadi lebih bisa menjaga diri.

Seperti misalkan virus HIV yang lebih berbahaya, itu saja kita tak terlalu khawatir karena paham bagaimana penularan dan pencegahan virus HIV. Maka menghadapi Covid-19 ini juga tidak perlu panik karena dengan selalu menjaga cuci tangan dan menjaga jarak, memakai masker dan mengikuti anjuran yang lain maka kita bisa terhindar dari Covid-19.

Jadi untuk menentukan apakah diperlukan lockdown atau tidak itu kita perlu melihat karakter masyarakat. Sebab dampak dari lockdown tentu saja mempengaruhi ekonomi masyarakat yang berdampak pada kondisi penyakit dan masalah lainya. Jika kita semua mampu mengenal lebih dekat virus Corona maka kita bersama akan mampu mengatasi pandemi ini tanpa adanya lockdown.


Bambang Utoyo Skep Ns MKep, Dosen Keperawatan Stikes Muhammadiyah Gombong

Tinggalkan Balasan