Lantunan Al Quran di Rutan, Menuntun Warga Binaan Memeluk Islam

LANTUNAN Al Quran menggema di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Kebumen setiap pagi di bulan suci Ramadan. Suara itu berasal dari warga binaan yang sedang mengikuti tadarus Al Quran di Masjid At Taubah yang berada di kompleks Rutan tersebut. Dengan mengenakan sarung, baju koko, dan kopyah, sejumlah warga binaan yang terdiri atas para narapidana dan tahanan yang masih menjalani proses hukum khuyuk membaca Al Quran. Tadarus dilaksanakan dengan sistem berkelompok. Setiap kelompoknya diisi 30 warga binaan yang dibagi masing-masing membaca satu juz.

Ya, kegiatan Ramadan di Rutan Kebumen tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya terdapat kegiatan rutin siraman rohani, tahun ini dialihkan menjadi tadarus Al Quran secara rutin. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi adanya penyebaran virus Corona.

Sebagai gantinya, selama Ramadan, Rutan Kebumen menggalakan program ‘One Day One Juz’ atau tadarus Al Quran satu hari satu juz. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kegiatan kerohanian bagi warga binaan. “Walaupun tidak ada siraman rohani dari pihak luar, tapi dialihkan untuk tadarus Al Quran dimulai jam 8-9 pagi,” ujar Kepala Rutan Kebumen Soebiyakto melalui Kasubsi Pelayanan Tahanan, Ahmad Baihaqi, kemarin.

Selain tadarus Al Quran, para warga binaan juga tetap diberikan keleluasaan dalam beribadah dengan syarat tetap menjalankan sesuai protokol kesehatan. Kendati begitu, kegiatan hanya dilakukan siang hari, sesuai surat edaran kanwil. “Kalau malam memang off, sesuai surat edaran Kanwil tidak ada kegiatan. Ada yang sholat tarawih tetapi dilaksanakan di masing-masing kamar,” tuturnya seraya menambahkan warga binaan non muslim dipisahkan satu kamar pada waktu kegiatan keagamaan.

Ramadhan tahun ini juga membawa keberkahan tersendiri bagi keluarga besar Rutan Kebumen. Pasalnya, dari sekian warga binaan non muslim, terdapat satu warga binaan non muslim yang menjadi mualaf. Disaksikan oleh teman-temannya, seorang warga binaan bernama Amirta Yogaswara (31) asal Kecamatan Sempor mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ikrar menjadi serorang muslim. “Jujur kami terharu adanya itu, sebelumnya juga ada satu menjadi mualaf,” ungkap Ahmad Baihaqi yang membimbing pembacaan dua kalimat syahadat.

Dengan sering dilakasanakanya kegiatan tadarus Alquran dan intensitas ibadah lain selama bulan suci Ramadhan, pihaknya berharap dapat memupuk keimanan dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. “Dalam keadaan terpuruk oleh Covid-19, semoga tidak hilang dalam memaknai Ramadan. Outputnya semakin ingat Tuhan dan tidak mengulangi hal buruk lagi,” katanya menyebutkan Rutan Kebumen saat ini dihuni 109 warga binaan dari jumlah kapasitas 113 orang.

Mendengar Adzan

Sementara itu, Bagi Amirta Yogaswara (31), Ramadan tahun ini sebagai titik awal memulai perjalanan menjadi seorang muslim. Dia mengaku tersentuh ketika adzan berkumandang dan mendengar lantunan ayat suci Al Quran yang dibaca oleh teman-temannya. Atas dasar itulah dia akhirnya memutuskan Islam sebagai agamanya. Terlebih, keinginan kuat itu datang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
“Pas mendengar suara adzan rasanya trenyuh, ya pengin ngikutin gitu. Menurut saya ini waktu yang tepat dan kesempatan terbaik, karena Ramadhan untuk muslim kan bulan istimewa,” kata Amirta.

Pria yang menjalani masa tahanan atas kasus penganiayaan itu menerangkan bahwa keputusan berpindah agama tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Sebelumnya dia kerap berkomunikasi dengan saudara perempuan yang lebih dulu masuk Islam. Amirta mengaku pasca menjadi seorang Muslim perasaan serta menjalani aktifitas di dalam Rutan menjadi lebih tenang. Menurut dia, rekan sekamar yang beragama Islam tampak memiliki persaudaraan kuat meski tidak ada hubungan darah.

Meski belum faham seutuhnya, namun dia akan memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini untuk menggali tentang ajaran Islam. Berbekal tekat kuat, dia berharap ke depan dapat menata kembali dan memiliki tujuan hidup secara terarah.
“Teman sekamar kan banyak yang sudah tahu, kalau bingung tinggal tanya. Masih terus belajar, latihan puasa, tarawih dan ngaji Iqro kalau pagi karena belum bisa baca Alquran,” jelas pria yang Lebaran mendatang genap empat bulan jadi penghuni Rutan.


Supriyanto

Tinggalkan Balasan