Kreatif, Memanfaatkan Kolam Sebagai Media Tanam Padi

MUNGKID – Ada saja kreativitas yang dilakukan masyarakat, seperti salah satu warga Kebonkliwon RT 09/RW 06, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Muh Khoirul Soleh atau yang biasa disapa Irul (46) memanfaatkan lahan kosong di atas kolam ikannya untuk menanam padi. Menanam padi dengan media peralon tersebut dikenal dengan higdroganik.

Adapun lokasi menanam padi dengan hidroganik yang berada di atas kolam ikan yang berada di samping rumahnya. Kolam ikan tersebut berukuran 19 x 5 m, sedangkan media hidroganik yang dipakai ukuran 6 x 12 meter. “Menanam padi hidroganik karena masih menggunakan media kompos dan sekam bakar, tidak seperti hidpronik. Kalau hidroponik murni air, ibaratnya disitu ada media semai,” jelas Irul saat diwawancarai, Selasa (9/6).

Ia bercerita, awalnya hanya coba-coba setelah melihat di media menanam padi dengan hidroganik tumbuh. Kemudian, hasil panennya menurut informasi bisa empat kali lipat dari konvensional (menanam padi di sawah). Untuk itu, ia mencoba dengan apa yang dimilikinya yakni sebuah kolam yang biasa digunakan untuk menyiram bibit tanaman.

“Saya kan punya kolam. Kolam itu biasanya saya gunakan untuk menyiram bibit, terus di atasnya nggak ada apa-apanya. Kolam saya kasih ikan, saya coba alternatif pakai itu (menanam padi) siapa tahu bisa menopang ketahanan pangan minimal keluarga,” paparnya. Adapun media tanam tersebut menghabiskan 24 peralon. Untuk padi yang ditaman ada dua jenis yakni IR 64 yang berusia 1 bulan lebih 10 hari, dan satunya jenis padi merah putih yang berusia 1 bulan. Untuk jarak tanam 25 cm dan air peralon menyala terus menerus.

Keuntungan dengan menanam menggunakan model ini, kata Irul, kontinuitasnya lebih banyak. Untuk menanam padi secara konvensional, hanya dua sampai tiga kali maksimal ditanami dalam setahun. Kemudian dengan media ini nantinya bisa lima kali jika dimaksimalkan.
“Kontinuitasnya lebih banyak, kalau konvensional kan paling dua sampai tiga kali maksimal satu tahun. Di situ, saya maksimalkan bisa lima kali. Kenapa bisa lima kali, karena ketika sudah umur 70 hari, saya sudah bikin semai. Begitu panen langsung dimasukan lagi nggak usah ngluku (membajak), nggak usah macul (mencangkul). Jadi ada hemat 20 hari, terpangkas 20 hari, saya punya bibit lagi,” ungkapnya.

Selama menanam padi dengan model hidroganik, katanya, gulma maupun hama cuman walang, wereng dan burung emprit. Untuk gulma tidak ada karena media tanamnya cuman kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 3: 1. “Ini bisa dibilang organik. Penyemprotan pakai organik. Media tanam cuman kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 3:1. Untuk penyemprotan dengan empon-empon dan lain-lainnya,” tutur Irul.

Irul menyebutkan, untuk membuat media tanam ini totalnya menghabiskan dana sekitar Rp 7 juta. Hal tersebut untuk membeli peralon ukuran 4 inchi, baja ringan dan cup menanam bibit padi. Sekalipun baru mencoba menanam padi dengan hidroganik, Irul mengaku, sejauh ini sudah ada yang memesan untuk dibuatkan media tanam tersebut. Pesanan tersebut datang dari Bogor, Jawa Barat.

“Ini sudah ada pesanan dari Bogor untuk dibuatkan. Mereka tahu dari facebook saya. Saya belajar autodidak, langsung dipratikkan langsung. Pesanan dari Bogor dengan ukuran 10 x 10 meter dua tempat. Setelah lockdown lepas, kemungkinan kita langsung kesana,” ujarnya seraya menyebut di kolam ada ikan nila, itu.

Menyinggung sirkulasi air, kata dia, setiap hari air menyala terus. Ia memakai pompa akuarium yang mengambil dari kolam terus disalurkan menuju semua peralon. Nantinya, air akan sampai ujung peralon dan masuk kembali ke kolam dengan air yang sudah bersih.
“Kotoran ikan tersaring di akar padi. Nanti air yang kelua dari peralon itu tambah bersih,” tutur Irul yang juga penjual berbagai bibit tanaman buah-buahan. Menanam model ini, katanya, cocok bagi mereka yang tidak memiliki lahan dan lokasi yang susah air. Jika yang air susah bisa membuat kolam dengan terpal, diisikan ikan maupun lele, nantinya di atasnya digunakan untuk menanam padi.


Dian Nurlita

Tinggalkan Balasan