Krangean, Potensi Wisata Baru di Kaki Gunung Merbabu

MUNGKID, SM Network – Dusun Krangean yang terletak di kaki Gunung Merbabu Kabupaten Magelang, memiliki potensi yang besar untuk menjadi desa wisata. Dusun yang terletak di Desa Ngablak, Kecamatan Ngablak ini memiliki potensi tersebut, karena para warganya berhasil membuat dusunnya berbeda dengan dusun lainnya di Kecamatan Ngablak.

Mendapat julukan dusun tercantik dan terbersih, Dusun Krangean ternyata mempunyai nama dan konsep sendiri yang telah di rancang oleh Kadusnya. Kadus Krangean, Yoyok, mengungkapkan dalam membangun wilayahnya ia mengusung konsep Kampung Mataram yang kental dengan kebudayaan Jawa. Hal tersebut bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Jawa.

“Konsep saya sebenarnya bukan desa cantik, tapi Kampung Mataram yang biasanya melekat dengan kebudayaan Jawa. Tujuannya agar kita bisa melestarikan kebudayaan Jawa,” ujarnya saat ditemui dikediamannya di Dusun Krangean, Jumat (29/1).

Menurut penuturan Yoyok, pembangunan Kampung Mataram sebenarnya bukan untuk desa wisata melainkan programnya sendiri selaku Kadus. Tujuan awal membangun kampung tersebut yakni ia ingin membuat orang-orang yang pernah singgah ke kampungnya mendapat kesan menarik setelah berkunjung ke sana. Meskipun demikian, Yoyok menyatakan siap jika sewaktu-waktu kampungnya ditunjuk menjadi desa wisata.

“Awalnya itu saya ingin membuat pengunjung yang pernah ke sini itu terkesan. Dengan menyuguhkan konsep Kampung Mataram yang bersih dan rapi,” terangnya.

Pembangunan Kampung Mataram sendiri sudah berjalan selama dua tahun ini, dengan dilakukan secara swadaya oleh warga setempat baik dari tenaga maupun dana yang digunakan.

“Jadi kami membangung Kampung Mataram ini kurang lebih selama dua tahun ini. Ha tersebut kami lakukan secara swadaya baik tenaga ataupun dana,” imbuh Yoyok.

Yoyok juga menambahkan selama masa pembangunan, warga bergotong royong untuk membangun dusun setiap harinya dan berhenti bekerja saat musim hujan dan panen tiba.

“Jadi setiap hari itu kami bergilir, tapi pas musim hujan gini atau pas panenan ya kami berhenti untuk sementara,” terangnya.

Sampai saat ini pengerjaan Kampung Mataram sudah berjalan 70 persen dan kurang pembangunan trotoar dan gapura. Gapura yang dibangun nantinya akan dibuat seperti pura Hindu. Hal itu dimaksudkan agar warga setempat paham akan perbedaan keyakinan yang ada meskipun di dusun tersebut tidak ada orang Hindu.

“Nah rumah-rumah warga yang temboknya luas, dan bukan yang halaman muka teras kita buat mural dengam tema jaman dahulu seperti Perang Mataram dan Pahlawan Diponegoro,” kata Yoyok.

Selain mepercantik dusun dengan konsep Kampung Mataram, disana juga terdapat Taman Baca yang dibangun dengan konsep selaras. Taman Baca ini biasa disebut perpustakaan atau Gazebo Jepang.

“Pembuatan Taman Baca ini awalnya merupakan program dari Kades dan dianggarkan sebanyak Rp 50.000.000. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan melebihi anggaran menjadi Rp 160.000.000 untuk membangun Taman Baca yang sesuai dengan konsep Kampung Mataram,” katanya.

Kekurangan dana ini diperoleh dari swadaya warga Dusun Krangean, lanjut Yoyok. Namun Yoyok juga menambahkan bagi siapa saja yang ingin mendonasikan buku ke Taman Baca tersebut dipersilahkan.

“Untuk saat ini kami sangat kekurangan bahan bacaan, kami mempersilahkan bagi para donatur yang ingin menyumbangan buku untuk anak-anak atau para warga,” imbuhnya.

Hingga saat ini, warga Dusun Krangean masih bahu-membahu untuk menuntaskan program Kampung Mataram. Mereka juga belum mendapat tindak lanjut atau bantuan dari pihak Dinas Pariwisata apakah akan di buat kampung wisata atau tidak.

Tinggalkan Balasan