Kota Magelang Dianggap Berhasil Kendalikan Penyebaran Covid-19

MAGELANG, SM Network – Pemkot Magelang dianggap berhasil dalam pengendalian penyebaran Covid-19. Oleh karena itu, Kota Magelang terpilih menjadi narasumber dalam Lokakarya Komwil VI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) tentang Strategi Pemerintah Daerah Dalam Penanganan Covid-19.

Kegiatan berlangsung virtual di Command Center komplek kantor WaliKota Magelang, Selasa (14/7). Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina pun menjadi pembicara dalam forum tersebut dengan peserta Ketua Apeksi Airin Rachmi Diany dan Dirjen Bangda Kementerian Dalam Negeri Hari Nur Cahya Murni, serta 36 perwakilan kota-kota komwil VI meliputi Ambon, Gorontalo, Tidore, Pare-pare, Ternate, Palu, Bau-bau, dan lainnya.

Windarti memaparkan secara umum kondisi Kota Magelang dan upaya menghadapi pandemi Covid-19. Data terkini per 13 Juni 2020, sudah tidak ada lagi kasus positif Covid-19 di Kota Sejuta Bunga.

Secara kumulatif jumlah kasus positif sebanyak 33 kasus, 29 orang di antaranya sembuh dan 4 orang meninggal. Kemudian jumlah PDP 66 orang, meliputi 57 sembuh dan 8 meninggal. Bahkan, data per 26 Juni 2020, angka reproduksi efektif (Rt) Kota Magelang tercatat 0,14, yang berarti peluang penularan ke orang lain sudah rendah.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perkembangan kasus Covid-19 di Kota Magelang cenderung ke arah yang baik. Angka kesembuhan baik pasien positif, PDP maupun ODP meningkat signifikan.

“Namun, kami tetap menganggap Covid-19 masih menjadi ancaman, sehingga tindakan kewaspadaan tetap dijalankan agar tidak terjadi gelombang kedua Covid-19,” ujarnya.

Dia menyadari penanganan Covid-19 tidak menyangkut aspek kesehatan saja, tapi aspek lainnya, yakni aspek pencegahan, sosial, pemulihan ekonomi, dan inovasi. Beberapa strategi yang dilaksanakan meliputi penyiapan sarana pelayanan kesehatan, tenaga medis, termasuk penyediaan anggaran Rp 137,8 miliar.

Kemudian, pencegahan penyebaran Covid-19 dan peningkatan edukasi masyarakat, antara lain dengan pembatasan akses masuk ke kota, penyemprotan cairan desinfektan di area publik, pengawasan ketat terhadap pendatang dari luar daer dan edukasi kepada masyarakat dengan berbagai media.

Selanjutnya pemberian bantuan sosial dan bantuan ekonomi, melalui program Bantuan Sosial Pangan Non Tunai, Bansos PKH, Jaring Pengaman Ekonomi (JPE) bagi pelaku UMKM. Pemkot Magelang juga mengalokasikan anggaran Rp 32,3 miliar untuk penanganan dampak ekonomi dari APBD 2020.

“Kami juga mendirikan dapur umum, dilaksanakan pada minggu kedua bulan Ramadhan 1441 H untuk menyediakan hidangan buka puasa bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Salah satu inovasi Pemkot Magelang yang menjadi perhatian peserta lokakarya adalah pembuatan Hatii-Pakem, yakni hazmat dari RSUD Tidar Kota Magelang yang memiliki banyak keunggulan dibanding hazmat lainnya.

“Hazmat ini menggunakan double layers, memakai bahan sejenis katun. Tahan pada sterilisasi 134 derajat celcius, reuseable atau bisa dipakai kembali sampai 50 kali, tentu saja inovasi ini lebih ekonomis dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, memasuki era adaptasi kebiasaan baru, lanjut Windarti, Pemkot Magelang telah membuka tempat ibadah sejak pertengahan Juni 2020, pembukaan pusat kegiatan ekonomi, pembukaan destinasi wisata, penerapan tatanan baru di lingkungan kerja, angkutan umum, hotel, dan sarana lainnya.

“Semua mengacu pada prinsip protokol kesehatan yang ketat. Meski sejauh ini kami belum menerapkan sanksi bagi masyarakat yang belum tertib, misal tidak pakai masker. Kami masih menerapkan sanksi sosial,” ungkapnya.


Asef Amani

Tinggalkan Balasan