Korban Penipuan Koperasi Desak Polda DIY Tahan Tersangka

SLEMAN, SM Network – Sebuah koperasi berkedok syariah yang beralamat di Yogyakarta, dilaporkan oleh salah satu nasabahnya ke Polda DIY. Korban berinisial HF (55) merasa dirugikan karena dana Rp 8,9 miliar miliknya yang disimpan dalam deposito, tidak kunjung dicairkan meski telah jatuh tempo.

Kepada wartawan, Senin (21/12), HF menuturkan, sekitar Januari 2017, dia didatangi oleh karyawan koperasi yang menawarkan produk deposito. Awalnya, korban menolak namun pihak koperasi terus membujuknya.

Selang satu bulan, pimpinan cabang koperasi berembel-embel syariah tersebut yang langsung datang menemuinya. Mereka menawarkan berbagai iming-iming termasuk bagi hasil hingga 18 persen per tahun.

“Mereka juga menyerahkan sertifikat kepada saya sebagai jaminan. Selain itu, saya dijanjikan kemudahan apabila sudah tidak tertarik, maka deposito bisa ditutup pada bulan keempat tanpa kena pinalti,” beber HF yang merupakan seorang pengusaha bidang penjualan mesin industri.

Korban akhirnya tergiur dan bersedia mendepositokan uangnya sebesar Rp 3 miliar. Uang itu diserahkan secara transfer dengan rincian Rp 2 miliar ke rekening pribadi pimpinan cabang, dan Rp 1 miliar ke rekening koperasi yang dahulu beralamat kantor di Jetis Yogyakarta.

Pada bulan pertama, bagi hasil berjalan mulus. Pihak koperasi lagi-lagi membujuk korban untuk menanamkan uang dengan tawaran keuntungan berlipat. Korban pun menuruti tawaran itu, dan kembali menempatkan dananya sebesar Rp 2 miliar.

Setelahnya, berulang kali korban mendepositokan uangnya hingga total mencapai Rp 8,9 miliar. Setahun kemudian, tepatnya Januari 2018, HF berencana menutup deposito tersebut. “Tapi pihak koperasi bilang agar jangan menutupnya. Akhirnya saya biarkan saja deposito itu tetap berjalan,” ungkapnya.

Namun ternyata, di bulan Februari dia tidak lagi mendapat bagi hasil seperti bulan-bulan sebelumnya. Tak berselang lama, koperasi itu justru tutup dan tidak diketahui alamatnya yang baru. Pimpinan koperasi dan karyawan marketing yang selama ini memproses depositonya juga tidak bisa lagi dihubungi.

Kasa hukum korban, M Rohmidhi Srikusuma mengungkapkan, kasus ini sudah dilaporkan ke Polda DIY sejak dua tahun lalu. Pihaknya menyebut sudah ada nama tersangka tapi penyidik belum melakukan penahanan. “Kami minta kepolisian segera menahan para tersangka karena dikhawatirkan bisa melarikan diri, mengulangi perbuatannya, maupun menghilangkan barang bukti,” katanya.

Dia menegaskan, perkara ini adalah ranah pidana sebagaimana tertuang dalam pasal 46 UU nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan. Saat dikonfirmasi, Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto membenarkan adanya laporan dari korban. “Sudah ada tiga tersangka. Berkas perkara juga sudah diserahkan ke kejaksaan, namun masih ada yang perlu dilengkapi,” kata Yuli.

Tinggalkan Balasan