Kopi Beraroma Tembakau Temanggung Sempat Dianggap Kelemahan, Kini Banyak Diminati

Penulis : Raditia Yoni Ariya

Matahari telah condong ke barat saat Setyo Wuwuh (40), menyeduhkan kopi dari teko kecil ke dalam cangkir bermotif blirik hijau putih. Aroma kopi arabica yang menyembul dari adukan air panas di cangkir pun langsung terasa dan menggugah selera untuk segera menyeruputnya.

UDARA sore di ceruk antara Gunung Sumbing-Sindoro yang mulai dingin menusuk tulang membuat sajian wedang kopi hitam begitu menggoda. Maklum Juni ini sudah masuk ”mangsa bediding” (suhu udara turun), sehingga membuat siapapun mencari sesuatu untuk menghangatkan badan. ”Hmmm…. nikmat sekali. Rasanya cukup nendang, ini kopi arabica beraroma tembakau ya mas? Memang kalau dicecap kita hirup dalam-dalam, tipis-tipis ada aroma tembakaunya,” kata Tabah (38), seorang penikmat kopi asal Blora yang sengaja datang ke rumah Setyo, petani kopi di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Selasa (30/6) petang.

Dua lelaki itu pun kemudian terlibat pembicaraan mendalam seputar kopi dan tembakau lembutan. Sembari menikmati indahnya senja dari bilik bambu, mereka pun kemudian melinting tembakau dengan garet dan cengkih. Katanya kurang afdol jika ngopi tanpa merokok ”tingwe” (nglinting dewe) dengan tembakau lembutan khas Sumbing, Sindoro, Prau. Setyo Wuwuh adalah seorang petani tembakau tulen tapi juga menanam kopi arabica di ladangnya. Bahkan dari sini, kini dia telah melebarkan sayap bisnisnya membuka kafe Lawoek Kopi. Dari petani tradisional kini dia menjelma menjadi ahli kopi sekaligus pakar tembakau.

Kopi beraroma tembakau dalam beberapa tahun terakhir banyak menjadi pembicaraan para penikmat kopi di Indonesia, bahkan yang di luar negeri pun dibuat penasaran. Kopi ini sebenarnya berasal dari jenis arabica yang tumbuh di ketinggian. Di wilayah Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu banyak petani yang banyak menanamnya di sela-sela tanaman tembakau dengan sistem tumpang sari. ”Jadi kopi beraroma tembakau itu mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 2010-2011. Ini tumbuh dan berkembang secara alami. Artinya, kita tidak pernah menyangka kalau dari kopi ini ada aromanya tembakau karena ditanam secara selang-seling di lahan kami,” tuturnya.

Tanaman kopi di ketinggian tiga gunung tersebut mulai marak ditanam sejak ada bantuan dari pemerintah, semasa Bupati Temanggung dijabat Sardjono. Pak Djon begitu nama bupati itu akrab disapa sekitar awal 2000 menginisiasi penanaman kopi di lahan tembakau secara selang seling. Harapannya jika pas tembakau tidak panen atau harga anjlok, petani masih mempunyai harapan dari panen kopi. Kini setelah sekian tahun berselang masyarakat tani mulai menuai hasil pemikiran sang bupati yang menjabat pada 1993-2003 itu. Bahkan aromanya yang unik sangat menggelitik setiap orang untuk mencecapnya.

Tak ayal permintaan pun tidak hanya berasal dari lokal Temanggung saja, Setyo mengaku memiliki langganan dari Semarang, Jogja dan Jakarta. Bahkan ada yang dari luar pulau seperti dari Kalimantan, Palembang dan Nusa Tenggara Timur. Pembeli asal Dubai dan Qatar pun pernah membeli kopi darinya. ”Sebenarnya awalnya dulu aroma tembakau pada kopi itu dianggap sebagai sebuah kelemahan. Kopi kok ada aromanya tembakau. Tapi sekarang justru ini jadi kelebihan kita, sebab seiring dengan maraknya perkopian di Tanah Air setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing. Maka Temanggung punya kopi beraroma tembakau dan banyak sekali peminatnya,” ucapnya. Setyo menerangkan jika tanaman kopi arabica banyak ditemui di lereng gunung di ketinggian 1.200-1800 mdpl. Namun dari penelitiannya kopi yang memiliki aroma tembakau kuat adalah yang ditanam di ketinggian lebih dari 1.400 mdpl.

Varietasnya pun bermacam-macam ada Linie S, Typica, dan adapula jenis Kartika atau petani sering menyebutnya kopi ”kate” karena tanamannya pendek. Tanaman kopi arabica ini bisa mulai berbuah di usia tanam tiga tahun dengan hasil panen 1-2 kilogram dan yang usia lebih dari lima tahun setiap pohonnya bisa menghasilkan panen lebih dari lima kilogram. Kalau sekadar ingin meikmati kopi, di Temanggung harga per cangkirnya cukup terjangkau antara Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Jika Anda penasaran silakan saja datang ke Temanggung nyruput kopi sambil menikmati hamparan ladang tembakau.


SM Network

Tinggalkan Balasan