Kontingensi Merapi Disesuaikan Kondisi Covid-19

SLEMAN, SM Network – Pemerintah Kabupaten Sleman bersiap mengubah rencana kontingensi erupsi Gunung Merapi. Dokumen kontingensi terakhir disahkan pada Februari 2020 lalu, atau sebelum terjadi wabah Covid-19. “Kami sudah membuat rencana kontingensi terkait aktivitas Merapi, tapi waktu itu disahkan sebelum ada pandemi Covid-19. Karena itu, sekarang perlu ada penyesuaian,” kata Bupati Sleman Sri Purnomo usai audiensi dengan BNPB dan BPPTKG di kompleks Setda, Kamis (9/7).

Beberapa langkah penyesuaian yang perlu dilakukan, semisal penerapan jaga jarak ketika berada di tempat pengungsian, dan penyekatan barak. Dia pun mengingatkan masyarakat khususnya yang tinggal di lereng Merapi agar tidak lengah terhadap potensi bahaya erupsi Merapi, kendati tengah berada di situasi pandemi Covid-19. Mengingat, Merapi adalah gunung berapi yang aktif. Sebelumnya, BNPB juga telah mengirimkan surat ditujukan BPBD DIY dan Jateng tentang peringatan dini dan langkah kesiapsiagaan menghadapi ancaman erupsi Merapi.

Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan menjelaskan, surat itu merupakan tindak lanjut dari informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terkait aktivitas Merapi terkini. Informasi yang disampaikan BPPTKG akhir pekan lalu menyebutkan adanya gempa vulkanik dangkal selama dua hari berturut-turut, serta pertumbuhan morfologi gunung. Hal itu menjadi indikasi peningkatan aktivitas Merapi.

“Kita memang sedang mengurusi Covid-19 tapi tidak boleh lupa dengan ancaman bencana erupsi Merapi ini,” ujarnya. Selain Sleman, jajarannya juga berkunjung ke kabupaten lain yang berpotensi terdampak meliputi Klaten, Magelang, dan Boyolali. Monitoring ini salah satunya untuk memastikan bahwa jalur evakuasi dan barak pengungsian sudah siap digunakan.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menjelaskan, aktivitas Gunung Merapi sampai sekarang masih berlangsung namun tidak terlalu signifikan. Sejak 22 Juni lalu terjadi penggelembungan tubuh gunung. Pertumbuhannya rata-rata 0,5 cm per hari ke arah Babadan. Namun angka itu masih sangat kecil dibanding kondisi letusan tahun 2010 dimana penggelembungannya mencapai 30-40 cm per hari. Sampai saat inipun belum terpantau adanya kubah lava.

Letusan terakhir yang terjadi pada 21 Juni lalu juga masih dalam skala paling rendah yakni satu. Perbandingan dengan kondisi letusan tahun 2006 berada pada skala 2, sedangkan tahun 2010 di skala 4. “Perkembangan ke depan akan terus kita lihat,” tutupnya.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan