Konser Mini Virtual di Tengah Pandemi

YOGYAKARTA, SM Network – Pandemi tidak memilih, siapa saja menjadi korbannya. Tak terkecuali sekolah-sekolah, terutama swasta, yang harus berjibaku untuk mempertahankan keberadaannya.

Jumlah murid yang sedikit membawa konsekuensi tersendiri. Ini dialami hampir semua sekolah swasta. Banyak cara dilakukan supaya dapat bertahan, salah satunya SD Kanisius Gowongan Yogyakarta.

Sekolah yang berada di tengah perkampungan ini memiliki sejarah panjang. Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga sederhana bahkan boleh dibilang tidak mampu. Selama 103 tahun berkarya, kini saat-saat paling sulit bagi mereka.

Kepala SD Kanisius Gowongan, Septiana Indri Bintarti menuturkan tanpa pandemi pun kondisi sekolah sudah tertatih-tatih. Jumlah total siswanya kini 64 orang dari kelas I-VI. Dan, 90 persennya berasal dari keluarga prasejahtera yang penghasilan orang tuanya tidak menentu.

Apalagi dalam pandemi, mereka angkat tangan tak sanggup membayar SPP anak-anaknya. Konsekuensinya tentu berdampak pada biaya operasinal sekolah. ”Namun demikian, kami harus tetap memberikan yang terbaik untuk siswa. Mereka tak boleh berhenti sekolah, mereka harus terus mendapatkan hak sebagai warga negara untuk memperoleh pendidikan,” tutur Septiana.

Beruntung, meskipun dalam kesederhanaan, para siswa dan orang tua saling mendukung. Mereka kompak mendorong anak-anak agar bisa maju. Berbagai kegiatan yang mengasah jiwa anak terusberlangsung dalam keterbatasan. Ada karawitan, musik dan lainnya.

Talenta anak-anak terus diasah dan pekan lalu mereka menggelar konser mini secara daring untuk mengumpulkan dana demi keberlangsungan sekolah. Pertama di Jogja Kegiatan bertajuk ”Mini Concert” guna mengumpulkan donasi. Mereka tak berharap muluk-muluk, cukup Rp 20.000 saja sudah sangat membantu keberlangsungan sekolah.

Bahkan, donatur bisa request lagu, tentu saja lagu-lagu yang tidak sulit bagi anak-anak. ”Ya…ini ruangan yang untuk konser, hanya satu kelas dan kami hias semaksimal mungkin supaya terlihat rapi,” ujar Septiana menunjukkan ruangan kecil, sederhana dengan cat kusam di sekelilingnya.

Para guru dan karyawan berusaha menyulap ruangan tersebut tampak rapi dengan menutup dinding menggunakan kain hitam dan hijau. Peralatan musik dan tempat duduk pemain diatur sesuai protokol kesehatan. Begitu pula penyanyi berada di depan agak jauh dari para pemain.

Jadilah ruangan kecil berkipas angin itu menyerupai studio musik. Dari sinilah konser disiarkan secara langsung melalui internet, virtual. Di sebelah ruang konser, ada ruang kelas dengan papan tulis yang sudah mleok-mleok sebagai ruang penonton.

Tak ada audio, penonton bisa menyaksikan melalui layar lebar tetapi audio konser langsung dari ruang sebelah. Terdengar? Tentu saja meskipun kadang tak begitu jelas. Tapi inilah semangat mereka, semangat menampilkan yang terbaik dan semangat agar sekolahnya dapat terus hidup.

Mereka begitu sumringah dapat menampilkan talentanya di tengah wabah yang terus melanda dan memporak-porandakan segala. Terlebih, ini menjadi konser pertama yang digelar sekolah dasar di Yogyakarta, bahkan bisa jadi di Indonesia.

Gedung kusam, cat yang mengelupas, papan tulis yang tak lagi lurus, tidak mengusamkan semangat anak-anak, orang tua dan guru. Mereka ingin sekolahnya tetap menyala menjadi penerang, pencerah bagi keluarga-keluarga sederhana yang menginginkan anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan layak.

Tinggalkan Balasan