Muchotob Hamzah - Rektor Universitas Sains dan Al-quran Wonosobo

Penulis : Muchotob Hamzah (Rektor Universitas Sains dan Al-quran Wonosobo)

Sejak zaman Nabi saw. hidup di daar al-Harbi (negeri musuh) di Makkah, saat itu Nabi saw. dan Islam dihimpit oleh negara dalam permasalahan aqidah, sosial, ekonomi, politik dan budaya, tetapi Islam dengan al-Qur’annya telah mendidik umat ini agama yang “Ful Konfiden”. Ayat Makiyah surat Al-Kafirun ayat 6 menunjukkan hal tersebut dengan sangat tegas. Ketika umat mendapatkan teror mental, teror fisik, embargo, politik etis, eksekusi tokoh dan kompromi akidah, Al-Qur’an menyatakan “Lakum diinukum wa liya diinun”, artinya: Bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami.

Sikapnya pantang mundur tetapi tetap menjunjung toleransi dalam bingkai persatuan. Islam sangat konsen dengan petsatuan dan kesatuan kemanusiaan. Pesan taaruf-nya dideklarasikan pada ayat yang khithabnya “Yaa ayyuhan- naasu… Wahai sekalian manusia…” Sesungguhnya Aku (Allah SWT) telah menciptakan kalian berjenis laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan kabilah-kabilah agar kalian saling mengenal…(QS. Al-Hujurat ).

Ujung ayatnya membuka peluang kepada siapapun tanpa pandang darah biru atau merah, bangsawan atau kebanyakan untuk menjadi orang terhormat. Peluang itu didapat siapapun yang bisa mencapai derajat takwa.

Kemudian setelah beliau mukim di daar al-Islam (negeri damai) Madinah, di bawah bayang-bayang koalisi musuh internal maupun eksternal, ayat Madaniyah dengan sangat tegas membimbing umat Islam dalam sikap yang konfidens menghadapi ahli kitab khususnya. Penggalan surat Ali Imran ayat 64 menyatakan:”…Fa in tawallau fa quuluu isyhaduu bi annaa muslimuun.” Artinya: Kalau mereka menolak dalam kesepakatan, silakan! Yang penting akuilah bahwa eksistensi kami sebagai orang Islam. Luar biasa pe-de! Kekuasaan di luar muslim boleh sistem apapun, bentuk dan ideologinya.

Yang penting akui kami sebagai muslim dengan berbagai sistemnya. Seakan Nabi saw. dan orang Islam berkata:”peduli amat dengan ideologi yang anda bawa. Mau kapitalis, mau sosialis, mau sekularis, mau paganis, yang pokok akui komunitas kami.

Kaum yang percaya diri (pd) macam inilah yang membuat mereka terbuka dan inklusif. Apalagi dengan visi “rahmatan lil ‘aalamien” (QS.Al-Anbiya 107). Rahmah adalah ar-riqqatu wa at-ta’atthufu, yaitu simpati dan empati (Lisaanul ‘Arab: Ibn al- Mandzur). Umat yang begini tidak selalu curiga pada orang lain. Sikap yang seakan semua orang akan menghabisi mereka adalah sikap yang paranoid. Sikap yang membuat umat eksklusif dan selalu memandang dengan sikap permusuhan.

Dibuatnya piagam Madinah yang hanya 47 pasal dalam 10 bab, di dalamnya tidak ada satu klausulpun yang menyatakan bahwa negara Nabi saw.sebagai negara Islam (label), meskipun berpayungkan Al-Qur’an. Piagam tersebut inklusif sehingga diterima oleh semua komunitas Madinah yang ada waktu itu. Baik Yahudi, Nashrani maupun paganis. Islam dijalankan secara elegan. Dengan pe-de pula komunitas lain yang ada dirangkul erat-erat. Musuh yang menyerang diselesaikan sesuai tingkat permusuhannya.

Jadinya negara ini memiliki banyak kawan, jejaring (networking) yang semakin kuat. Saking pe-de-nya, perjanjian Hudaibiyah yang secara kasat mata merugikan umat Islam, oleh Nabi saw. ditandatangani. Sebuah MOU yang timpang dan berat sebelah. Naskah MOU yang melambangkan simbol agama seperti kata-kata “Nabi” dan “Basmalah” dalam naskah harus dianulir.

Tak mengira, setelah berfikir lumayan jauh, ternyata disitulah kunci kejayaan Islam. Mengalah untuk menang, dan menang tanpa mengalahkan. Nabi saw. hakikatnya memimpin Daar al-Islam, tetapi tidak melabeli negaranya dengan negara Islam. Cukup nama yang netral, Madiinah al-Munawwarah. Puncaknya ketika musuh bertekuk lutut, dengan tegas amnesti digaungkan…”Laa tatsriiba….”



Wallaahu A’lam bis-Shawaab! (Penulis adalah Rektor Universitas Sains dan Al-quran Wonosobo/UNSIQ)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here