Kondisi Stasiun Secang Tidak Terurus

MAGELANG, SM Network – Jejak masa kejayaan perkeretaapian di Kabupaten Magelang, khususnya jalur Semarang – Magelang – Jogjakarta, masih menyisakan jejak sejarah di wilayah Kecamatan Secang.

Jejak tersebut berupa Stasiun Secang, dimana lokasi tersebut juga menjadi titik tumpu penghubung jalur Parakan – Temanggung – Magelang – Jogjakarta atau Semarang.

Namun sayang, Komplek Stasiun Secang yang kental akan sejarah kini dalam kondisi yang kurang baik, meskipun masih menampakan kekokohan bangunannya, yang merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Menurut data dari Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas pemerhati sejarah dan bangunan cagar budaya heritage, menyebutkan, Stasiun Secang sendiri memiliki beberapa jalur seperti Magelang-Secang yang beroprasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung – Parakan beroperasi 1 Juli 1907.

“Seiring waktu berjalan jalur yang sudah jadi tersebut tidak bertahan lama, seiring dengan banyaknya transportasi lain sebagai pilihan. Akhirnya jalur tersebut ditutup, jalur Parakan-Secang berhenti aktif pada 1973, jalur Magelang-Ambarawa berhenti aktif 1967,” ucap Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, saat dihubungi Selasa (14/1).

Dari segi bangunan Stasiun Secang desainnya mirip dengan Stasiun Bedono dan Jambu, dimana stasiun itu hanya bersifat transit sementara untuk meneruskan perjalanan ke kota atau daerah tujuan.

Meskipun masih nampak kokoh, namun keadaan bangunan Stasiun Secang jauh lebih memprihatinkan dibanding dengan kondisi bangunan Stasiun Bedono dan Jambu yang jauh lebih terawat.

Selain bangunan utama stasiun Secang bercat putih, dihalaman stasiun juga masih tersisa besi panjang rel kereta api, dan bila diurut atau ditelusuri lebih lanjut rel kereta api tersebut menghilang ditelan rumah-rumah penduduk.

Menurut Bagus Priyana, Stasiun Secang secara kriteria memenuhi syarat sebagai cagar budaya sebagaimana UU no. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Misalnya sudah berusia lebih dari 50 tahun, memiliki nilai sejarah dan nilai penting bagi perkembangan transportasi di masa lalu.

“Karena itu, KAI dan Pemkab Magelang sudah seharusnya melestarikan stasiun tersebut dan objek yang mendukung keberadaan stasiun itu. Usaha pelestarian dilakukan melalui proses perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan Cagar Budaya,” ungkap Bagus.

Tinggalkan Balasan