SM/Arif Widodo - RUMAH KLANCENG : Pembudidaya menunjukkan rumah klanceng di Dukuh Semanda, Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kebumen.

BERADA di ujung Utara Kebumen yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, satu dukuh di Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kebumen, sekian lama terisolasi. Selain aksesnya yang sulit dijangkau, kampung Dukuh Semanda masuk RW 5 Desa Gitlritirto itu juga jauh dari pusat desa setempat, berjarak sekitar 15 km jika melewati Jalan Giritirto – Banjarnegara.

Kalau melewati Dukuh Tedunan Desa Giritirto, jaraknya lebih jauh lagi, yakni mencapai 25 km. Sehingga, sangat jarang bagi pejabat di tingkat kabupaten maupun kecamatan yang berkunjung ke Dukuh Semanda. Namun sejak ada budidaya lebah klanceng yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Dadi Mulya, nama Dukuh Semanda melambung.

Alhasil, para pejabat pun kemudian berdatangan untuk melihat potensi yang ada. “Klanceng memang membuat nama Dukuh Semanda melambung dan diikuti para pejabat yang berdatangan, baik tingkat kabupaten maupun kecamatan. Bahkan sampai pejabat pusat,” kata Marketing KTH Dadi Mulya Dukuh Semanda, Sarno yang juga Kasi Kesra Pemerintah Desa Giritirto, Jumat (5/2).

Menurut Sarno, budidaya klanceng yang memanfaatkan lahan warga di wilayah pegunungan itu rencananya dijadikan sebagai wisata edukasi. Di tempat tersebut nantinya disediakan media pembelajaran, mulai proses pemindahan koloni, perawatan, penelitian, pecah koloni hingga panen madu klanceng.

Sarno mengungkapkan awal mula budidaya klanceng yang dikelola kelompok sejak Desember 2018. “Di sini banyak koloni klanceng di bambu-bambu. Sebelumnya kami tidak memedulikannya dengan dijual ke tempat budidaya klanceng di Desa Kalipoh Kecamatan Ayah,” ungkap Sarno.

Hingga kemudian Sarno bertemu dengan pendamping kehutanan, Triono yang menjelaskan potensi klanceng. Tak lama berselang dibentuklah KTH Dadi Mulya yang diketuai Slamet Hanafi. Perburuan klanceng pun dilakukan di hutan. Koloni klanceng yang masih berada di pohon-pohon kemudian dipindah ke bambu. Selanjutnya dibuat koloni menggunakan kotak atau boks.

“Saat ini sudah terkumpul 3000-an koloni, dengan di bambu-bambu,” imbuh Sarno. Pengembangan budidaya klanceng terus dilakukan. Di lahan pegunungan yang terdapat rumah-rumah klanceng itu tengah dibangun fasilitas berupa gazebo. Ada warung serta rumah klanceng untuk pemaparan saat ada kegiatan.

Pengembangan juga dengan tanaman kopi serta aneka buah seperti belimbing untuk agrowisata. “Bantuan sudah datang dari pemerintah desa sampai pusat. Pihak Perhutani melalui Aspernya juga siap kerjasama,” ucap Sarno. Ke depan, pihaknya akan memanfaatkan lahan Perhutani hingga puluhan hektare untuk pengembangan secara terpadu.

Kades Giritirto Sugito mengemukakan, adanya budidaya klanceng di desa yang berpenduduk besar, tak kurang dari 10 ribu jiwa itu cukup meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami terus mendorong untuk dikembangkan,” kata Sugito.

Ketua KTH Dadi Mulya Dukuh Semanda Desa Giritirto Slamet Hanafi menyebut, panen tiga bulan sekali dari budidaya klanceng mencapai 10 liter. Madu itu dikemas dalam botol dengan volume 150 mili seharga Rp 75.000. Disebutkan, permintaan madu klanceng selama ini selalu kekurangan barang. “Ini tentunya menjadi peluang bagus,” jelas Slamet.