SM/Asef F Amani - JASA OPERASIONAL: Wali Kota Magelang, dr Muchammad Nur Aziz didampingi wakilnya, M Mansyur dan Sekda Joko Budiyono memberikan arahan kepada para Ketua RT dan RW di sela penyerahan jasa operasional di Kelurahan Tidar Utara.

MAGELANG, SM Network – Para Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) se-Kota Magelang mulai menerima jasa operasional dari Pemkot Magelang. Penerimaan yang mengikuti protokol kesehatan ini dilakukan di tiap kelurahan secara bertahap.

Wali Kota Magelang, dr Muchammad Nur Aziz menyerahkan langsung jasa operasional ini untuk tahap pertama di Kelurahan Tidar Utara, Senin (8/3). Ia mengatakan, RT merupakan unit organisasi terkecil di masyarakat, sehingga merekalah yang bisa menjadi orang pertama tahu kondisi warganya. 

Namun, dia juga berikrar bahwa sebagai Wali Kota, dirinya akan siap 24 jam melayani masyarakatnya. Ia pun membuka lebar pintu diskusi dan komunikasi bagi siapapun yang menginginkan, termasuk melalui sosial media maupun nomer handphone pribadinya.

“Kalau RTnya saja tidak peduli, kami semakin tidak tahu. Oleh karenanya, dengan beberapa pendekatan, kami mencoba untuk memotong jalur komunikasi. Sehingga, warga bisa komunikasi langsung dengan Wali Kotanya, tanpa ada sekat,” ujarnya.

Jasa operasional yang telah diberikan Pemkot Magelang sejak tahun 2011 ini bertujuan untuk mengapresiasi Ketua RT dan RW, karena telah menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban lingkungan. Adapun besarannya Rp 250.000 per bulan untuk Ketua RT dan Rp 400.000 per bulan untuk Ketua RW.

“Ini sudah menjadi program dari Wali Kota sebelumnya, jadi yang baik kita lanjutkan,” katanya.

Adapun tahun ini besaran jasa operasional meningkat, dari sebelumnya Rp 150.000 menjadi 250.000 per bulan untuk Ketua RT. Sedangkan untuk Ketua RW dari Rp 190.000 menjadi Rp Rp 400.000 per bulan.

Dokter spesialis penyakit dalam itu berharap, di era pemerintahannya dengan Wakil Wali Kota Magelang, M Mansyur, masalah kemiskinan bisa terselesaikan. Menurutnya, angka kemiskinan di Kota Magelang tidak lah banyak, hanya sekitar 9.270 jiwa.

Namun menurutnya, perasaan miskin itu sebenarnya hanya ada di hati seseorang. Maka, dia menegaskan, teknis pemberian bantuan bagi warga miskin akan dikaji ulang. Apabila perlu, warga yang telah memperoleh bantuan kemiskinan, di rumahnya akan ditempel stiker “Saya Miskin”.

Metode seperti ini diharapkan akan menyentuh hati orang-orang yang sebenarnya berkecukupan, namun mengaku miskin. Sedangkan orang yang benar-benar miskin juga akan berusaha keras untuk memperbaiki hidupnya, sampai stiker tersebut dilepas dari rumahnya.

“Termasuk model pendataannya pun harus dirubah. Pendataan harus melibatkan masyarakat. Nanti pak RT dan pak RW sebagai perwakilan dari masyarakat akan bekerja sama dengan Dinas Sosial,” jelasnya.