Ketimpangan Antara Produksi Dan Kesejahteraan Petani Tembakau

MUNGKID, SM Network – Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Namun sangat disayangkan, antara produksi tembakau dan kesejahteraan para petani belum seimbang. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Heni Setyowati Esti Rahayu dalam kegiatan pers konferens penyampaian hasil riset yang dilakukan oleh Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang), tentang pengalaman petani dtembakau di wilayah Jawa Tengah, Sabtu (25/7).

“Fakta menunjukkan hal yang berbanding terbalik antara produksi tembakau dan kesejahteraan petani. Tentunya kan harus seimbang. Ditambah pada masa pandemi ini menuntut langkah ketahanan pangan, yang menyebabkan penurunan area lahan dan peoduktivitas tembakau,” jelas Heni salah satu tim MTCC.

Tim MTCC sendiri menemukan beberapa faktor seperti faktor internal maupun struktural. Ditengah kondisi ini banyak para petani yang melakukan pergeseran alih tanaman maupun diversifikasi tanaman. “Melihat kondisi tersebut kami melakukan berbagai upaya pemberdayaan, pendampingan, dan riset terkait multikultur. Salah satunya di wilayah Kecamatan Windusari. Disana banyak petani tembakau yang melakukan diversifikasi tanaman ke tanaman ubi jalar,” ujar Heni.

Salah satu petani tembakau yang beralih tanaman ke ubi jalar, Istanto, mengatakan saat ini banyak para petani diwilayahnya yang beralih menanan tanaman ubi jalar dan tanaman lainnya. Hal tersebut dilakukan karena dinilai lebih menguntungkan dari pada menanam tanaman tembakau.

“Banyak petani yang beralih menaman tembakau ke ubi jalar. Sebab di masa pandemi ini harga ubi tidak terpengaruh dan tetap tinggi,” jelas Istanto.

Istanto juga menjelaskan bahwa ubi bisa menjadi komoditas dan diolah menjadi makanan apa saja. Ia juga mengajak para petani lain untuk menanam ubi kayu karena banyak yang membutuhkan. Diketahui bahwa produk ubi dari wilayah Windusari ini sendiri, telah diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia dan Singapura. “Rata-rata panen kita setiap bulan itu sekitar 8 ton. Dan di masa pandemi ini tidak menjadi kendala,” imbuhnya.

Untuk ubi yang tidak bisa diekspor kemudian diolah menjadi berbagai bahan pangan seperti grubi ataupun ubi bakar. Untuk ujung ubi juga diolah menjadi tepung ubi. “Jadi tidak ada bagian ubi yang terbuang,” jelasnya. Sementara itu, melihat kondisi geografis Kecamatan Windusari yang berada di lereng Gunung Sumbing ini berada pada ketinggian 400- 1000 meter dpl. Pada ketinggian 400-700 meter dpl, banyak ditanami tanaman ubi. Sedangkan pada ketinggian 800-700 meter dpl, banyak diversifikasi tanaman sayuran seperti kobis, sawi, dan tanaman sayur lainnya. Di ketinggian 1000 meter dpl ke atas, beberapa petani menanam tanaman tembakau juga kopi.

“Untuk kopi kita tanam perdana pada 6 Desember 2017. Sekarang sudah panen dua kali. Banyak para petani yang tertarik menanam kopi ini karena prospeknya bagus. Selain itu juga pernah ada penelitian oleh ahli kopi. Dan mengatkan bahwa kopi kita ada di grade A, dengan nilai 88,66,” papar Istanto.


Dian Nurlita/ita

Tinggalkan Balasan