ilustrasi

MAGELANG, SM Network – Bencana alam tanah longsor, banjir dan bencana lainnya di Indonesia ternyata berdampak kerugian yang cukup besar. Menteri Keuangan RI mencatat kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp. 22,8 Triliun.

“Belum lagi kita melihat statistik perbandingan korban jiwa akibat bencana dalam 10 tahun terakhir yang rata-rata mencapai 1.143 jiwa meninggal dunia,” papar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Doni Monardo saat menggelar rapat koordinasi tahun 2021 melalui video conference, kemarin.

Acara tersebut diikuti Bupati Magelang Zaenal Arifin, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Nanda CP, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto dan sejumlah pejabat lainnya.

Doni Monardo menyebutkan dari awal Februari 2020 hingga akhir Februari 2021 BNPB mencatat terdapat 3.293 kejadian bencana di Indonesia.

“Ini artinya setiap hari setidaknya ada 9 kali kejadian bencana, apakah itu gempa, tsunami, erupsi gunung berapi, banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung,” ungkap Doni.

Melalui rapat tersebut, seluruh instansi pemerintah, TNI dan Polri, serta pemerintah daerah diminta harus bersinergi melakukan berbagai upaya pencegahan mitigasi, termasuk di dalamnya perencanaan pembangunan yang berlandaskan pengurangan resiko bencana, pelibatan pakar, memperkuat sistem peringatan dini, serta menyusun rencana kontijensi.

Bupati Magelang, Zaenal Arifin mengatakan Pemerintah Kabupaten Magelang selalu mengikuti arahan dari BPPTKG terkait kondisi Gunung Merapi terkini. Ia juga mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdekat/lereng Merapi (KRB III) untuk tetap siaga dan waspada. 

“Apabila nanti sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi, masyarakat sudah siap untuk mencari titik teraman bagi dirinya dan keluarganya. Paling tidak untuk meminimalisir korban jiwa. Kita berharap 0 atau Zero korban jiwa” pesan Zaenal.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto menambahkan, untuk mengurangi potensi terjadinya pohon tumbang akibat terpaan angin kencang atau puting beliung, masyarakat diimbau memangkas ranting pohon di musim penghujan untuk mengurangi beban.

“Masyarakat yang punya atau ada pohon-pohon besar yang rindang ada baiknya dipangkas agar tidak tumbang saat diterpa angin dan hujan. Ini salah satu mitigasi bencana yang mudah untuk dilakukan masyarakat,” pungkas Edy.