Kera Gunung Tidar Mulai Resahkan Warga

MAGELANG – Kera ekor panjang di Kebun Raya Gunung Tidar mulai meresahkan warga sekitar. Meski tidak menyerang, kera-kera ini turun ke pemukiman yang mengganggu kenyamanan warga. Bahkan, ada pula yang sampai menyeberang jalan raya hingga sampai ke Pasar Gotong Royong.

Dwi Haryanto (52), warga Rejowinangun Selatan menduga kawanan kera ini turun gunung karena tidak adanya suplai makanan. Apalagi, selepas musim kemarau, pohon-pohon di Gunung Tidar belum berbuah lagi.

  “Kera-kera ini sering mencari makan ke Pasar Gotong Royong kalau pagi-lagi. Karena di pasar itu kan banyak sayur sisa yang tidak dijual,” ujarnya, Jumat (17/1).

Belakangan memang terlihat belasan hingga puluhan kera dari Gunung Tidar kerapkali ke pemukiman warga. Selain faktor makanan yang kian menipis di Gunung Tidar, pengaruh lain lantaran populasi mereka yang kian tak terkendali.

Hewan primata ini punya perkembangbiakan yang sangat cepat. Bahkan, dalam jangka waktu dua tahun saja, perkembangbiakan kera ekor panjang mencapai 100 persen.

Hasil penelitian tahun 2015 lalu menyebutkan, jumlah kera ekor panjang tidak lebih dari 300 ekor. Dua tahun kemudian, jumlahnya bertambah banyak sekitar 600 ekor pada tahun 2017. Tahun 2019, atau dua tahun berikutnya jumlahnya kembali 100 persen, sehingga perkiraannya ada 1.200 ekor atau bahkan lebih.

Menyikapi hal ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang yang kini bertanggung jawab mengelola Gunung Tidar mulai menyusun strategi, untuk menangani masalah populasi kera ekor panjang ini.

Kepala DLH Kota Magelang, Otros Trianto menjelaskan, populasi kera ekor panjang yang berkembangbiak begitu cepat dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem Gunung Tidar. Bahkan juga mengganggu aktivitas warga, karena mereka acapkali turun ke jalan raya dan pemukiman warga sekitar.

“Sudah lama sebenarnya wacana mengurangi populasi kera ini, tapi belum ada yang cocok. Kalau kera ini tidak bisa dikendalikan akan bahaya. Akan kita coba terus mengkaji bagaimana cara yang efektif untuk mengurangi jumlah kera ini ke depan,” jelasnya.

Dia menilai, dalam penanganan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebab, pihaknya ingin pengentasan kera yang over populasi tidak sampai dibunuh.

“Ada cara lain selain dibunuh, misalnya dipindahkan. Nah, tempat mana nanti yang cocok, tanpa mengganggu ekosistem bisa dipilih. Kemudian alternatif lain, vasektomi para pejantannya agar mereka tidak bisa berkembangbiak terlalu cepat,” terangnya.

Di satu sisi, Satpol PP Kota Magelang menangkapi sejumlah kera ekor panjang yang turun ke pemukiman warga. Setelah ditangkap, kera-kera ini dibawa lagi ke Gunung Tidar. 


(Asef Amani)

Tinggalkan Balasan