Kepercayaan Masyarakat pada Bank BPD DIY Makin Besar

YOGYAKARTA, SM Network – Direktur Utama (Dirut) Bank BPD DIY Santoso Rohmad mengungkapkan meskipun situasi ekonomi terganggu akibat pandemi Covid-19 namun kepercayaan masyarakat pada BPD makin besar. Ini karena bank tersebut terus berusaha membantu pelaku ekonomi agar bertumbuh.

”BPD sebagai bank yang sahamnya milik Pemda DIY maupun pemerintah kabupaten/kota harus mampu meyakinkan masyarakat agar ekonomi DIY bangkit lagi sehingga kepercayaan masyarakat juga semakin besar,” ujar Santoso dalam diskusi media, akhir pekan kemarin.

Ia memaparkan berbagai hal mengenai peran Bank BPD DIY membangkitkan UMKM dan ekonomi daerah. Menurutnya pandemi sempat membuat aktivitas perekonomian sepi, perbankan cemas. Pasalnya, banyak uang yang seharusnya beredar justru tertahan. Kendati demikian ia bersyukur Bank BPD DIY justru tumbuh menggembirakan bahkan kepercayaan masyarakat meningkat. Buktinya, Dana Pihak ketiga (DPK) dari masyarakat yang dikelola meningkat.

Pihaknya terus berusaha menumbuhkan sektor-sektor ekonomi skala kecil di kalangan pelaku UMKM agar perekonomian kembali bergairah. Ia mencontohkan penyaluran kredit ultra-mikro dengan plafon maksimal Rp 2,5 juta bunga 3 persen jangka waktu satu tahun. Paling Parah Pembicara lain dalam diskusi tersebut, Wakil Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Amirullah Setya Hadi. Ia mengatakan pandemi mengakibatkan perekonomian DIY mengalami penurunan. Laju pertumbuhannya minus 6,74 persen.

Secara nasional DIY merupakan satu dari tiga provinsi paling parah tingkat kontraksi ekonominya, selain Bali dan DKI Jakarta. ”Terjun bebas merupakan hal yang biasa. Sebenarnya naik atau turun itu sesuatu yang biasa, tinggal berapa lama. Dalam istilah Jawa kondisi perekonomian yang dialami DIY seperti cakra manggilingan, kadang-kadang di atas lingkaran, samping dan posisi paling bawah,” paparnya mengibaratkan perekonomian seperti roda yang berputar.

Ia menjelaskan DIY sempat mengalami pertumbuhan ekonomi sangat tinggi dua tahun belakangan ini, sebelum wabah corona. Pemicunya, pembangunan bandara baru di Kulonprogo. Sayangnya, saat bandara baru seharusnya sudah memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi, tiba-tiba datang pandemi yang membuat perekonomian anjlok. ”Mungkin satu-satunya solusi agar mampu terlepas dari persoalan ini, segera membuka kampus tanpa membuat dikotomi kesehatan dan perekonomian. Perlu kenekadan dengan segala risiko agar perekonomian kembali bergairah,” tandas Amirullah.

2 Komentar

  1. 541452 855156Excellently written post, doubts all bloggers offered exactly the same content because you, the internet can be a greater place. Please keep it up! 746344

  2. 863513 469810Some times its a pain inside the ass to read what weblog owners wrote but this site is really user friendly ! . 231995

Tinggalkan Balasan