Kemenangan Kotak Kosong Kentara, Peluang Calon Alternatif Masih Terbuka

KEBUMEN, SM Network – Ketiadaan pilihan dengan hadirnya calon tunggal dalam menghadapi Pilbup 9 Desember 2020 belumlah final. Namun jika dipaksakan sampai pencoblosan nanti, geliatnya justru kentara dimenangkan kotak kosong atau kolom yang tidak ada gambarnya pada surat suara.

Terlebih setelah dibentuk Presidium Mas Koko yang menghimpun sukarelawan dari segala penjuru Kebumen. “Ini masih sebulan lebih menuju pendaftaran calon bupati – wakil bupati di KPU pada 4 – 6 September 2020,” kata Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Masdulah) Nanang Umar Affandi, Senin (3/8).

Selain cukup waktu untuk memperkuat kotak kosong agar diisi oleh mayoritas pemilih, juga masih terdapat peluang hadirnya calon alternatif. Sebab, tidak menutup kemungkinan, keputusan partai politik yang telah menyodorkan calon tunggal ada yang berubah.

“Kita kan tahu, bahwa politik itu sangat dinamis. Bahkan kalau kita jeli, saat ini justru memberi tantangan tersendiri untuk mengolah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin,” ucap Nanang yang sebelumnya mengawal Menantu Wapres KH Ma’ruf Amin, Eno Syafrudien Ngendong (berkunjung) di Kebumen pada 25 – 29 Juni lalu.

Kemungkinan adanya calon alternatif dalam menghadapi Pilbup itu memang tertuju pada Eno. Pihaknya pun tak pupus harapan. Apalagi Eno yang muncul belakangan sebagai kandidat bupati dinilai membawa perubahan nyata. Hal tersebut dibutuhkan bagi daerah paling miskin di Jawa Tengah ini. Sehingga bisa mengubah keputusan partai untuk mengusung dengan minimal 10 kursi DPRD.

Disebutkan Nanang, keperihatinan atas kemiskinan parah itu tercatat setelah Kebumen mengalami pergantian bupati dan pengisian wakil bupati antar waktu 2019 lalu. “Jika yang jadi bupati sekarang legawa tidak maju Pilkada, maka tentunya yang menjabat wakil saat ini perlu mengerti tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin sejati,” tandasnya.

Lebih lanjut Nanang mengungkapkan, kondisi Kebumen hingga sekarang juga belum lepas dari perkara korupsi menyusul operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 2016 silam. Buktinya, pengembangan perkara sampai saat ini terdapat mantan pejabat yang terlibat korupsi masih mendekam di penjara.

“Dan ketika istri salah satu mantan pejabat tersebut memilih tidak maju Pilkada, maka pemimpin sejati kudu menunjukkan prinsipnya. Bukan tidak berdaya ketika disandingkan dengan istri mantan pejabat yang dipenjara lainnya,” imbuh Nanang yang memiliki nama lain Prawiro Dirjo itu.

Begitu pula para elite agar menyadari pentingnya memperbaiki Kebumen dari mental korup. Namun dalam menghadapi Pilbup 2020 ini terbaca adanya sekenario para elite dengan istilah kartel politik, yang hanya menghadirkan calon tunggal.

“Kalau memang calon tunggal itu mau diteruskan maju, yang jelas pilihannya masih diperbolehkan mencoblos kotak kosong atau kolom yang tidak ada gambarnya pada surat suara. Dan kemenangan pun menjadi semakin nyata,” terang Nanang.


(Arif Widodo / K5)

Tinggalkan Balasan