Kekerasan Seksual Terhadap Anak Marak di Wonosobo

WONOSOBO, SM Network – Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih marak terjadi di Kabupaten Wonosobo. Ironisnya, kasus ini seperti fenomena gunung es, masih banyak korban yang takut untuk melaporkanya. Salah satu kasus kekerasan pada anak yang sering terjadi adalah sodomi.

Ketua Unit Pelayanan Informasi Perempuan dan Anak (UPIPA) Gerakan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Wonosobo, Yayuk Sri Rahayuningsih mengatakan, kasus sodomi pada anak sering terjadi dan dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka seperti orang tua, saudara, bahkan teman sebaya yang ada di Sekolah.

“Korbanya laki-laki dan perempuan. Ironisinya, kasus yang ditemukan, korban masih dibawah umur, masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu atau dua,” pekiknya. Data UPIPA GOW Wonosobo menunjukan, pada tahun 2019 kasus sodomi pada anak mencapai sekitar 20 kasus.

Yayuk menjelaskan, data tersebut merupakan data untuk kasus yang dilaporkan kepihaknya. Dirinya yakin, masih banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di Wonosobo namun banyak warga yang enggan melaporkanya, baik karena takut ataupun kecemasanya akan mendapat perlakuan negatif di dalam masyarakat.

Permasalahan ini merupakan polemik yang serius, Yayuk menjelaskan, kekerasan seksual yang terjadi baik sodomi atau kekerasan seksual lain seperti penyakit menular, 90 persen korban akan memiliki perilaku yang sama, yakni akan menjadi pelaku.

“90 persen korban akan menjadi pelaku. Entah karena ingin balas dendam atau ketagihan. Jika tidak tertangani dengan baik maka akan semakin menjamur. Bayangkan jika satu pelaku melakukanya kepada lima korban, empat korban akan berperilaku sama dengan pelaku, maka kekerasan ini akan semakin banyak terjadi,” jelasnya.

Lebih lanjut Yayuk mengatakan, kekerasan seksual tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan tempat tinggal, bahkan sering terjadi di sekolah. Dirinya menceritakan, ada kasus anak Sekolah Dasar (SD) mendapat kekerasan seksual di dalam kelas. Ketika gurunya keluar, pelaku berbuat asusila kepada korban di hadapan teman-temanya.

Karena mendapat ancaman, korban tidak berani melaporkanya ke orang tua. Kasus tersebut belakangan diketahui setelah keluarga korban memeriksakan anaknya. Kasus tersebut tentu menjadi pukulan yang serius bagi keluarga dan Pemerintah terutama dinas yang tekait, baik Dinas Pendidikan maupun Dinas yang menangani perlindungan anak. Sekolah yang seyogyanya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar, kini menjadi tempat yang mengerikan bagi beberapa siswa.


Adib Annas M

1 Komentar

  1. 745522 101953Can I just say what a relief to search out somebody who really is aware of what theyre speaking about on the internet. You undoubtedly know how to deliver a difficulty to light and make it critical. Extra folks want to learn this and perceive this facet of the story. I cant consider youre no far more common because you positively have the gift. 843633

Tinggalkan Balasan