SM/Amelia Hapsari - Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Wisnu Murti Yani

SLEMAN, SM Network – Sebanyak 8,36 persen balita di Sleman mengalami stunting. Ironisnya, kasus stunting banyak ditemukan di daerah lumbung padi. Diantaranya Kapanewon Moyudan, Seyegan, Minggir, dan Prambanan.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Wisnu Murti Yani, penyebab stunting lebih dipengaruhi pola asuh, dan kurang beragamnya makanan yang dikonsumsi balita. Sehingga tidak jaminan masyarakat yang tinggal di lumbung padi, kebutuhan gizinya terpenuhi secara lengkap.

“Zat yang dibutuhkan terutama gizi protein seperti yang terkandung di dalam buah dan sayur,” kata Wisnu kepada Suara Merdeka, Minggu (27/12).

Dia tidak sependapat dengan anggapan bahwa faktor ekonomi memberi pengaruh besar terhadap kasus stunting. Pasalnya, lintas sektor pemerintahan sudah mengupayakan penanggulangan kemiskinan lewat berbagai bantuan.

“Kalau kemiskinan terus yang dikambinghitamkan, saya rasa tidak pas. Justru pola asuh yang lebih berpengaruh,” tukasnya.
Untuk menangani stunting, Dinkes telah mengupayakan pemberian makanan tambahan. Mulai tahun depan sesuai Instruksi Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan, makanan tambahan dianggarkan dari dana desa.

Menunya tidak hanya biskuit, tapi bisa disesuaikan dengan kearifan lokal seperti contohnya abon dan telur. Selain itu, penanganan stunting ditekankan pada validasi data laporan. Terkait target ini, program pembaruan sarana posyandu digencarkan sejak tahun 2018.

Kini, semua posyandu sudah memiliki alat infantometer sehingga diharapkan data yang dilaporkan benar-benar akurat. Dengan berbagai upaya itu, angka stunting di Sleman berangsur turun dari 11 persen di tahun 2018 sekarang berada pada kisaran 8 persen.

“Semoga kondisi pandemi tidak membuat data stunting naik lagi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menekannya,” ucap Wisnu.

Dia mengungkapkan, sejak bulan Mei silam, pihaknya telah menyusun protap pelayanan balita di posyandu pada masa pandemi. Teknisnya tidak jauh berbeda dengan petunjuk dari pusat terkait pelayanan balita di puskesmas. Semisal, membuat janji pertemuan lewat ponsel dan menyiapkan masker bagi balita.

Untuk menghindari kerumunan, pelaksanaan posyandu juga diatur jadwalnya per RT. “Barangkali masih ada yang takut datang ke posyandu. Itu wajar, sehingga kami juga fasilitasi pemantauan oleh kader ke rumah warga,” ujarnya.