Kamar Isolasi di Sleman Tidak Mencukupi

SM Network – Tren kasus Covid-19 di Kabupaten Sleman cenderung meningkat. Terkini, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sesuai data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencapai 101 orang, sedangkan orang dalam pengawasan (ODP) sebanyak 464 orang. “Melihat perkembangan trennya, kemungkinan masih akan naik,” ungkap Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo.

Menghadapi situasi semacam ini, ketersediaan ruang isolasi di rumah sakit menjadi hal yang perlu. Sejak berstatus dalam pengawasan, pasien dengan gejala sedang dan berat harus dirawat di ruang isolasi. Namun, kata Joko, jumlah kamar isolasi masih sangat kurang. Dari 9 rumah sakit di Sleman yang masuk jaringan rujukan, keseluruhan hanya memiliki 35 kamar isolasi. Rata-rata di tiap rumah sakit hanya terdapat 2-4 ruang isolasi.

Sembilan rumah sakit itu meliputi RSUD Sleman, RSUD Prambanan, JIH, Panti Rini, Sakina Idaman, PKU Muhammadiyah Gamping, Bhayangkara, Hermina, dan RSA UGM. “Kamar isolasi tidak cukup. Namun terus berusaha untuk memenuhinya,” ungkap Joko.

Dicontohkan di RSUD Sleman yang baru saja menambah tiga kamar semi isolasi. Berbeda dengan ruang isolasi, kamar semi isolasi tidak menggunakan tekanan negatif melainkan hanya hepafilter atau exhaust. Pihak RSUD Sleman sendiri saat ini baru punya dua kamar isolasi. 

Untuk mencukupinya, manajemen RSUD terus melakukan renovasi. Rencananya minggu depan akan ditambah lagi fasilitas 9 kamar isolasi dengan ukuran lebih besar. “Nantinya bisa menampung dua pasien dengan syarat jenis kelaminnya sama, dan sama-sama berstatus PDP,” terang Joko.

Sementara itu, dari 101 PDP Covid-19, sebagian sudah selesai menjalani isolasi di rumah sakit. Beberapa ada yang masuk kategori gejala ringan sehingga langsung diperbolehkan pulang.


Sm Network/Kim

Tinggalkan Balasan