Kaliurang jadi Daerah Endemis Antraks

SLEMAN, SM Network – Meski hingga saat ini belum ditemukan lagi adanya kasus penyebaran antraks, namun Dinas Peternakan Sleman tak memungkiri bahwa wilayah DIY termasuk Sleman di dalamnya terbebas dari penyakit yang menyerang hewan ternak itu.

“Di Sleman ada daerah endemis antraks, ditemukan di Kaliurang. Tapi dari 2003 hingga saat ini belum lagi ditemukan adanya laporan-laporan penyebaran penyakit tersebut,” papar Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan Sleman, Harjanto.

Ditemui usai menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan peternak sapi perah Sleman yang diinisiasi sebuah produsen susu kemasan (21/1), Harjanto mengatakan penyakit antraks pada hewan ternak memiliki sifat bertahan lama. Maksudnya spora pada antraks memiliki kekuatan bertahan cukup lama yakni hingga 60 tahun.

“Antraks ini begitu dibuka ada spora di dalamnya dan mampu bertahan 60 tahun. Karena bentuknya spora maka bisa tahan terhadap cuaca,” imbuh dia.

Ilustrasi : Google

Harjanto mengatakan, kali terakhir kasus antraks di Sleman terjadi pada 2003 silam dimana saat itu ada 3 ekor sapi yang mati mendadak. Untungnya, kasus itu tidak sampai menyebar luas ke manusia.

“Sempat waktu itu karena kasus pertama kali di Sleman tahunya bukan mati karena antraks, tapi begitu positif (antraks) kami langsung melakukan penyuluhan dan sebagainya,” tutur dia.

Tak hanya antraks, ungkap Harjanto, pihaknya juga mewaspadai timbulnya teleria atau parasit daerah yang kerap ditemukan pada hewan-hewan ternak. Bahkan teleria pernah ditemukan di beberapa kecamatan di Sleman.

“Kami investigasi sejauh mana penularannya. Karena penularannya teleria itu melalui caplak (kutu). Ketika ada petani membeli sapi ada caplaknya maka kemungkinan akan menyebar. Efeknya itu anemi, ada kekurusan¬† dan kondisi parah bisa mati,” jelas dia.

Antisipasi

Meski begitu, lanjutnya, Dinas Peternakan Sleman selalu menyiapkan langkah antisipasi. Seperti adanya 14 pos kesehatan hewan yang tersebar di berbagai wilayah Sleman untuk memantau dan mengedukasi masyarakat tentang bahayanya antraks.

“Saat ini kami tetap waspada dan melakukan upaya bahwa setiap ada kematian ternak ruminansia yang mendadak harus lapor dan tak boleh dikonsumsi dan dijual. Harus dipastikan penyebabnya apa dahulu,” ungkapnya.

Tak hanya itu, tambah Harjanto, setiap transaksi pembelian dan penjualan hewan juga harus ada dan dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan asal hewan. 

“Seperti sapi itu bebas antraks, bebas fesilosis. Apalagi kemudian dengan kasus ini kami meng

Tinggalkan Balasan