Kabupaten Magelang Terapkan Desa Penyangga

MUNGKID, SM Network – Berdasarkan data hasil pemantauan Gunung Merapi oleh BPPTKG, aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk. Oleh karena itu, pada tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB, tingkat aktivitas Merapi dinaikkan dari WASPADA (Level II) ke SIAGA (Level III).

Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengatakan berdasarkan data seismik yang dianalisis oleh BPPTKG letusan Gunung Merapi diperkirakan akan mengarah ke arah letusan eksplosif. Diketahui kondisi saat ini per 11 November 2020 pukul 15.00, rata tiga hari, gempa VA 0, VB 33, MP 341, LF 2, dan RF 45. Deformasi teramati dari EDM Babadan 12cm/hari.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPPTKG merekomendasikan sejumlah desa di Kabupaten Magelang yang masuk dalam KRB III untuk mengungsi, yakni tiga desa di Kecamatan Dukun.

“Untuk 5 km dari puncak kita ada dua desa yang dekat yakni Paten dan krinjing. Itu pun tidak semua desa, untuk Desa Paten ada Dusun Babadan 1 dan Babadan II dengan jarak 4,5 km dari puncak dan Babadan II itu 5 Km. Kemudian untuk Krinjing ada Trayem, Pugeran, dan Trono dengan jarak 6km,” jelas Edy.

Kemudian ada satu desa lagi yakni Desa Ngargomulyo yang berjarak 7,9 Km dari puncak yakni ada Dusun Batur Ngisor, Dusun Gemer, Dusun Ngandong, dan Dusun Karanganyar.

“Menurut BPPTKG ini aman, hanya saja karena jarlur evakuasinya kecil kemudian ada potensi-potensi pohon pinggir jalan yang roboh muungkin saja mereka terisolasi. Sehingga ada pertimbangan untuk mengungsikan untuk Ngargomulyo,” ungkapnya.

Maka dari hasil pemantauan dan rekomendasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Magelang memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Erupsi Gunung Merapi sehingga kelompok rentan di ungsikan ke Desa Saudara (Desa Penyangga).

“Kita sudah siap untuk desa penyangganya masing-masing. Desa Paten di Desa Banyurojo dan Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan. Kemudian Desa Krinjing di Desa Deyangan Kecamatan Mertoyudan. Desa Ngargomulyo di Desa Tamanagung Kecamatan Muntilan yang terbagi di 4 titik Pengungsian. Serta Desa Keningar di Desa Ngrajek Kecamatan Mungkid terbagi di 2 titik Pengungsian,” terang Edy.

Diketahui jumlah pengungsi untuk Desa Paten ada 443 jiwa, Desa Krinjing 117 j iwa, Desa Ngargomulyo 121 jiwa, dan Desa Keningar sebanyak 134 jiwa. Total pengungsi hingga Kamis (12/11) pukul 18.00, ada sebanyak 815 jiwa di sembilan titik pengungsian.

“Untuk Desa Keningar itu diluar rekomendasi prakiraan bahaya BPPTKG. Namun atas dasar rasa takut dan trauma akibat kejadian erupsi 2010, maka Pemerintah Desa memfasilitasi evakuasi pengungsian,” imbuhnya.

Edy juga mengungkapkan bagaimana para pengungsi aman dari pandemi Covid-19. Maka pihaknya membatasi kuota perlokasi pengungsian.

“Sekarang masalahnya kita harus aman dari aman dari merapi juga aman dari Covid-19. Sehingga kita mengatur untuk TEA hanya diisi 50 persen dari kapasitas yang ada. Kurangnya kemana itu akan kita ungsikan ke fasilitas umum lainnya bisa sekolah dan lainnya,” terang Edy.

Maka sebagai langkah antisipasi jika seluruh warga mengungsi, pihaknya juga telah menyiapkan sejumlah tempat seperti gedung sekolah.

“Kita telah menyiapkan beberapa tambahan lokasi pengungsian baru di 78 titik. Diantaranya ada 34 sekolah dan satu perguruan tinggi. Itu keseluruhan untuk menampung 1028 KK,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan