Jejak di Jalur Evakuasi Merapi Bukan Macan Tutul

SLEMAN, SM Network – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menyatakan jejak satwa yang ditemukan di jalur evakuasi Suruh-Singlar Dusun Ngancar, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman bukan berasal dari macan tutul.

Berhasil hasil kajian petugas TNGM yang mengecek langsung ke lokasi, Selasa (24/11), jejak tersebut dipastikan adalah hewan anjing.

“Dilihat dari bentuk bantalannya yang menyerupai segitiga, itu adalah jejak anjing. Kalau jenis kucing, bentuknya agak lonjong,” terang Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, Irwan Yuniatmoko.

Ciri lain adalah penampakan kuku di depan jari tapak. Sementara satwa kucing ketika berjalan biasanya kukunya selalu tersimpan sehingga tidak akan tampak.

“Ukuran jejak yang ditemukan berbeda-beda. Memang ada yang bisa sebesar jejak macan tapi dari ciri-cirinya dipastikan semuanya berasal dari hewan anjing,” beber Irwan.

Selain itu, hewan macan juga tidak suka melintas di jalan tipe aspal. Satwa tersebut cenderung lebih memilih jalan tanah atau setapak. Untuk lebih meyakinkan masyarakat bahwa jejak itu bukan dari macan tutul, pihaknya akan memasang kamera trap di sekitar lokasi jalur evakuasi Suruh-Singlar.

Kepala Balai TNGM Pujiati mengatakan, sampai sekarang belum pernah ada temuan fisik macan tutul di kawasan hutan Merapi.

“Kalau laporan dari masyarakat, ada beberapa tapi ketika dikonfirmasi ternyata satwa anjing,” ungkapnya.

Pada tahun 2012 pernah didapati bekas cakaran pada pohon yang ada di zona inti TNGM. Salah satunya adalah area hutan Plawangan. Namun sampai saat ini belum dijumpai penampakan macan tutul. Empat puluh unit kamera trap yang dipasang oleh TNGM juga tidak pernah merekam keberadaan satwa liar tersebut.

Kamera itu sendiri ditempatkan di titik-titik yang berpotensi menjadi jalur lintasan macan tutul. Semisal lokasi yang banyak terdapat makanan macan seperti kijang, musang, dan trenggiling. 

“Awal tahun 2021, kami sudah menyiapkan rencana penambahan kamera trap. Tapi karena kondisi Merapi sedang Siaga, belum bisa direalisasikan,” ujar Puji.

Terkait perilaku satwa pasca kenaikan status Merapi ke level Siaga, dia mengaku pernah mendapat laporan tentang lutung yang turun dari hutan Merapi di daerah Kemalang, Klaten. Namun belum diketahui apakah hal itu ada kaitannya dengan status aktivitas Merapi. 

“Sempat ada beberapa ekor lutung yang turun agak jauh dari kawasan hutan, tapi sudah kembali lagi ke tempat asalnya. Jadi tidak bisa disimpulkan binatang itu turun karena peningkatan aktivitas Merapi,” beber Puji.

Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak mengganggu satwa yang turun dari gunung. Jika mendapati hewan masuk ke pemukiman, warga diminta melapor ke petugas. “Kami akan sosialisasikan hal ini kepada masyarakat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan