Irigasi Waduk Sempor Hanya Cukup Hingga 23 Hari

KEBUMEN, SM Network – Posisi muka air atau elevasi Waduk Sempor, Kebumen saat ini 70,2 muka di atas permukaan laut (mdpl), dengan volume 33 juta meter kubik (m3). Adapun batas maksimal pengeluaran air 66 mdpl atau 25 juta m3.

“Dengan posisi tersebut, maka akan dikeluarkan 3 m3 perdetik mulai 1 Juli. Dan kondisinya hanya cukup sampai 23 hari,” kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kebumen, Supangat, Selasa (30/6).

Ia juga menyampaikan hasil rapat koordinasi alokasi air Waduk Wadaslintang dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak pada Senin (29/6).

Menurutnya, kondisi elevasi Waduk Wadaslintang pada 29 Juni 2020 mencapai 177 mdpl dengan volume 309.825 juta m3. “Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak siap menambah debit sesuai kebutuhan di lapangan sampai batas minimal operasi 160 mdpl untuk periode 1-15 Juli 2020,” ucap Supangat.

Dikatakan, air Waduk Wadaslintang dialirkan sebesar 22 m3 perdetik dengan pengaturan meliputi saluran induk Wadaslintang Barat (SIWB)
7 m3 perdetik, saluran induk Wadaslintang Timur (SIWT) 6 m3 perdetik dan Bedegolan 9 m3 perdetik. Pengeluaran air selanjutnya, kata Supangat, akan diatur kembali sesuai permintaan dari pihak terkait.

Diakui, dari rapat koordinasi sebelumnya sempat diputuskan tidak mengalirkan irigasi waduk untuk penyelamatan. Kemudian menyarankan kepada petani untuk menanam palawija. “Waktu itu April tidak ada air, sehingga irigasi dihentikan. Namun kemudian hujan turun terus menerus, sehingga dirapatkan lagi,” imbuhnya.

Hasil rapat tersebut dialirkan 14 m3 perdetik, yang terbagi di UPTD Bedegolan 7 m3 perdetik, Kaligending 3 m3 perdetik, dan Kedungsamak 4 m3 perdetik. Sedangkan Sempor 3 m3 perdetik.

Kendati dari rapat saat itu disarankan agar menanam palawija, ternyata sebagain petani tetap menanam padi, seperti di wilayah irigasi Kedungsamak dan Buluspesantren. Sehingga, irigasi dari Kaligending yang mencakup wilayah Buluspesantren dan Kedungsamak pun dioptimalkan. “Malah untuk Kaligending ditambah tumpukan kantong, sehingga debit yang teralirkan bisa mencapai 3 m3 perdetik,” terang Supangat.

Ia mengakui irigasi di Kebumen banyak yang rusak. Pihaknya pun sempat melontarkan saat rapat dengan Komisi B DPRD Kebumen agar irigasi yang masuk kewenangan pusat dan pemerintah daerah, dari desa membantu memperbaiki yang rusak atau bocor. “Tentunya harus didasari dengan MoU kerjasama operasional,” jelasnya.


Arif Widodo/K5

4 Komentar

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  2. I am regular visitor, how are you everybody? This article posted at this web site is in fact pleasant.

  3. Very good article! We are linking to this particularly great content on our site. Keep up the great writing.

Tinggalkan Balasan