Sendang Pocot, Dipercaya Mampu Copot Jabatan Seseorang

KAMPUNG Banyuurip Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, yang berada di sebelah Tenggara Kabupaten Bantul dikenal sebagai perkampungan yang cukup tua dan memiliki banyak tempat mistis dan sakral sampai sekarang. Tak jarang banyak orang berbondong-bondong datang untuk melakukan ritual hajat atau sekedar berwisata religi.

Dari sekian banyak tempat bersejarah, terdapat salah satu tempat yang cukup sakral yakni Sendang Pocot. Sendang ini berada di sisi Timur Kampung Banyuurip atau tepat di sebelah barat Sungai Oya.

Keberadaan Sendang Pocot ini memang tak lepas dari sejarah peninggalan Sunan Geseng atau Jebeng Cokro Joyo yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di daerah tersebut. “Sendang Pocot ini biasanya dimanfaatkan orang untuk mocot atau mencopot jabatan seseorang,” ujar Juru Kunci Sendang Pocot, Safrudin Tamar kepada KRJOGJA.com, Selasa (3/3/2020).

Seperti diketahui, Sendang Pocot sendiri muncul setelah Sunan Kalijaga memaNdikan muridnya yakni Sunan Geseng yang meninggal karena terbakar. Sebelumnya Sunan Geseng yang bernama Jebeng Cokro Joyo berasal dari Bagelan Purworejo Jawa Tengah bertemu dengan Sunan Kalijaga saat dirinya menderes kelapa.

Singkat cerita, setelah berbincang-bincang akhirnya Jebeng Cokro Joyo menjadi murid Sunan Kalijaga dan ikut mengeMbara ke arah Timur sampai wilayah Jatimulyo. Saat itu sewaktu Sunan Kalijaga memiliki urusan ke Mekah meminta Jebeng Cokro Joyo tinggal di wilayah tersebut dengan menancapkan tongkat ke tanah dan tidak boleh pergi sebelum sang guru kembali.

Karena menunggu cukup lama, tempat tersebut tumbuh pohon bambu dan tumbuhan rambat sehingga Jebeng Cokro Joyo tak kelihatan. Untuk itu Sunan Kalijaga sekembalinya dari Merah lalu membakar pohon bambu dan ternyata muridnya tersebut ditemukan dalam keadaan mati dengan luka bakar.

Melihat hal itu, Sunan Kalijaga lantas menancapkan tongkatnya dan keluarlah sumber mata air yang jernih dan berlimpah untuk membandingkan Jebeng Cokro Joyo. Tak disangka, setelah dimandiman, Jebeng Cokro Joyo yang mati dalam keadaan gosong dapat hidup kembali.

Sehingga mata air tempat ditancapkan tongkat Sunan Kalijaga saat ini dikenal sebagai Blumbang Banyuurip atau Banyu Penguripan. Sementara tempat untuk membuang kotoran Jebeng Cokro Joyo dikenal sebagai Sendang Pocot.

Sebagai tempat yang cukup angker, jarang ada orang berani datang ke Sendang Pocot. Untuk itu setiap tamu yang memiliki hajat tertentu biasa menghubungi Tamar, panggilan akrab Safrudin Tamar yang tak lain cucu Ki Narto Wiryo untuk melakukan ritual. Melalui Sendang Pocot ini siapapun bisa mencopot jabatan seorang pemimpin yang diketahui zalim dan menyengsarakan rakyat.

Untuk persyaratan ritual cukup mudah, hanya menyediakan sesaji maupun uba rampe yang dibutuhkan. “Selain mencopot jabatan, Sendang Pocot juga sering digunakan untuk mengalahkan musuh. Tetapi semua tergantung keyakinan dan didasari atas kuasa Allah,” tegas Tamar. 


SM Network/Kr

Tinggalkan Balasan