Inilah Dusun Butuh “Nepalnya” Magelang Bikin Penasaran

SIAPA sangka kedatangan pendaki senior pada Juni 2019 lalu yang sudah banyak mendaki gunung di Indonesia dan luar negeri mendatangkan magnet bagi wisatawan untuk datang berkunjung ke Dusun Butuh. Sang pendak menyebut dusun di lereng Gunung Sumbing tersebut seperti sebuah desa yang ada di Nepal, ada di ketinggian dan berderet laiknya terasering dengan latar belakang gunung Everest yang indah.

Bedanya, dusun yang berada di Desa Temanggung Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang ini berlatar belakang Gunung Sumbing. Kemiripan inilah yang kemudian membuat nama Dusun Butuh yang juga merupakan dusun tertinggi di Magelang itu populer disebut sebagai Nepalnya Magelang.

SM/Asef F Amani – NEPALNYA MAGELANG: Deretan rumah tertata apik di lereng Gunung Sumbing, tepatnya Dusun Butuh, Desa Temanggung Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang, dusun tertinggi di Magelang yang kini populer disebut sebagai Nepalnya Magelang.

Bagi wisatawan yang tertarik untuk menikmati pesona keindahan Dusun Butuh, harus menempuh jarak kurang lebih 21 km dari pusat Kota Magelang atau sekitar 40 menit hingga satu jam perjalanan. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi melalui jalan Bandongan – Jalan Raya Kaliangkrik. Perlu diperhatikan untuk sampai di dusun ini, sepeda motor maupun kendaraan yang dipakai benar-benar kuat.

Wisatawan tidak perlu merogoh kocek mahal-mahal untuk berwisata di sini. Pengunjung sekadar ditarik biaya parkir dan uang kebersihan, Rp 5.000 untuk sepeda dan sepeda motor, sedangkan untuk mobil Rp 10.000.

Jika cuaca bersahabat wisatawan dapat menikmati dan mengabadikan momen dengan latar belakang Gunung Sumbing. Dusun Butuh yang merupakan pintu gerbang naik ke Gunung Sumbing ini tidak hanya menawarkan keindahan panorama sekitar serta sejuknya udara saja, tetapi wisatawan juga dapat menikmati keunikan kontur tata letak bangunan rumah warga yang susunannya seperti anak tangga. Atap tetangga dibawahnya seolah-olah seperti halaman orang yang punya rumah diatasnya.

Tata letak bangunan yang unik awalnya terbentuk dari terasering lahan. Berada di ketinggian mulai dari 1.600 mdpl dan barisan rumah yang mencapai titik tertinggi berada di ketinggian sekitar 1.800 mdpl. Belum ada perbandingan yang ada di atasnya, sehingga hal ini menjadi sebab Dusun Butuh diklaim sebagai dusun tertinggi di Magelang.

Kepala Dusun Butuh, Lilik Setyawan menuturkan, cerita soal Dusun Butuh bak Nepalnya Magelang mulai muncul sejak Juni 2019 lalu. “Juni tahun lalu, ada pendaki senior yang liburan ke sini. Kebetulan pernah berkunjung ke Nepal, dan katanya mirip sama yang di Nepal sehingga tercetus Nepalnya Magelang,” ujarnya di kediamannya, belum lama ini.

Dijelaskannya, pendaki senior itu pernah melakukan pendakian ke Gunung Everest dan melihat tata letak bangunan mirip dengan yang di Nepal lereng Gunung Everest, kalau disini lereng Gunung Sumbing. “Kemudian foto pemandangan Dusun Butuh yang seperti Nepal diupload di media sosialnya hingga viral. Sampai sekarang banyak orang yang mau berkunjung ke sini,” katanya.

Dia menyebutkan, Dusun Butuh dihuni hampir 620 kepala keluarga dengan jumlah lebih dari 2.500 jiwa. Mayoritas warga bekerja sebagai petani sayuran. Komoditas utama sayuran yang ditanam adalah daun bawang, kubis, wortel, dan kentang.

Dusun Butuh sekarang menjadi favorit pengunjung dari berbagai penjuru daerah yang tertarik untuk berswafoto dan menikmati wisata alamnya, khususnya di akhir pekan banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Weningtyas (20), salah satu wisatawan dari Mertoyudan, Magelang mengaku, tertarik dengan tata letak bangunan rumah warga yang berada di ketinggian dan berbeda dari yang lainnya itu.

“Unik tempatnya, beda dsri yang lain. Selain menyuguhkan pemandangan indah dan udaranya dingin, di sini juga tata letak bangunannya kayak terasering, bikin beda suasananya,” akunya.

Wisatawan dapat menikmati perjalanan dari spot satu ke spot berikutnya dengan sensasi jalan yang terjal. Di dusun ke depan akan ada paket wisata dengan sistem trip. Wisatawan bisa berbaur dengan warga khususnya petani dan mengikuti kegiatannya. Wisatawan bisa menikmati suasana jadi petani sembari menikmati penorama kanan kiri yang indah.


Asef Amani

Tinggalkan Balasan