Ini Strategi Satu-Satunya Kecamatan Di Jogja Yang Berhasil Pertahankan Zona Hijau

SLEMAN, SM Network – Sejak kasus positif Covid-19 pertama kali ditemukan di DIY pada pertengahan Maret 2020, Kecamatan Cangkringan menjadi satu-satunya wilayah di Kabupaten Sleman yang bertahan sebagai zona hijau.

Sampai saat ini belum pernah ditemukan pasien positif di kecamatan tersebut. Keberhasilan mempertahankan zona hijau itu, menurut Camat Cangkringan, Suparmono, dikarenakan kepatuhan warga dalam memenuhi imbauan pemerintah. Utamanya, dalam menangani warga pendatang.

“Warga yang datang dari luar daerah harus melakukan isolasi mandiri. Jika tidak memungkinkan di rumah masing-masing, pihak dusun atau desa juga telah menyediakan rumah isolasi,” kata pejabat yang akrab disapa Pram ini, Sabtu (4/7).

Tingginya kesadaran masyarakat itu didukung pula dengan ketersediaan sarana protokol pencegahan Covid-19 khususnya tempat cuci tangan, yang ada di semua fasilitas pemerintah maupun fasilitas umum. Jajaran muspika secara rutin juga menyambangi kampung-kampung sembari patroli untuk mengingatkan penduduk agar disiplin mematuhi protokol kesehatan.

“Penyemprotan disinfektan sampai sekarang masih rutin dilakukan oleh gugus desa maupun gugus kecamatan. Sasarannya terutama fasilitas umum,” ujar Pram.
Mengingat Kecamatan Cangkringan adalah salah satu tempat tujuan wisata, upaya pencegahan penularan virus corona juga difokuskan di destinasi. Saat ini, hampir semua objek wisata di kecamatan yang berada di lereng Merapi itu sudah kembali beroperasi. Tempat wisata ini antara lain tersebar di Desa Umbulharjo, Kepuharjo, dan Glagaharjo.

Pengoperasian sektor pariwisata itu tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang pelaksanaannya diawasi oleh masing-masing pengelola. “Gugus tugas kecamatan dan desa menjaga beberapa titik yang biasa dijadikan tempat berkerumun, terutama para goweser. Bukan melarang, tapi mereka haya diingatkan agar menaati aturan saat kumpul beristirahat,” tukasnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, jika pengelola telah siap melaksanakan protokol kesehatan dan ada wisatawan yang datang, maka objek wisata bisa dibuka dengan uji coba terbatas. Namun sebelumnya harus terlebih dulu dilakukan simulasi protokol kesehatan dalam menerima kunjungan wisatawan.

“Kalau menunggu Covid-19 hilang, belum jelas waktunya kapan. Karena itu dengan uji coba terbatas diharapkan lambat laun bisa menggerakkan kegiatan pariwisata, perekonomian, dan pendidikan di tengah pandemi,” katanya.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan