SM/Dananjoyo : Pemandangan Gunung Merapi yang telah berstatus Siaga (Level III) terlihat dari Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (14/12).


YOGYAKARTA, SM Network – Masa krisis Gunung Merapi tahun 2020 ini berbeda dari sebelumnya. Pada erupsi 2006, Merapi berstatus Siaga selama satu bulan bahkan di tahun 2010 hanya butuh waktu 5 hari untuk menaikkan tingkat aktivitasnya ke level Awas.

Namun pada 2020 ini, sejak Merapi dinaikkan statusnya ke Siaga per 5 November, sampai sekarang magma belum terlihat muncul di permukaan. 

Kondisi itu, menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida disebabkan berbagai faktor. Salah satu kemungkinannya karena ada material yang menyumbat aliran magma.

“Kemungkinan lain disebabkan suplai relatif kecil, dan kandungan gas lebih sedikit sehingga tidak ada yang mendorong magma menuju permukaan. Pergerakan yang terjadi selama ini dipengaruhi kantong magma dangkal,” terangnya, Rabu (30/12).

Dari sisi energi gempa, kondisi sekarang juga sudah melampaui erupsi 2010 namun masa krisis tidak kunjung usai. Data terakhir per 22 Desember 2020, jumlah energi mencapai 203 gigajoule dengan jumlah kegempaan lebih dari 20.500. Sedangkan data pada 26 Oktober 2010, energi yang dihimpun Merapi sebesar 76 gigajoule dengan aktivitas hampir 9.000 kali gempa.

Mengenai hal ini, Hanik menjelaskan adanya perbedaan pola dimana pada tahun 2010 terjadi akselerasi. Sehingga jika dalam waktu dekat Merapi mengalami erupsi eksplosif, tidak akan sebesar peristiwa 2010.

“Indikasinya dilihat dari tidak ada gempa vulkanik dalam. Sampai saat ini, semua kegempaan bersifat dangkal,” jelasnya.

Pihak BPPTKG akan terus melakukan asesmen. Mengingat kondisi Merapi yang fluktuatif namun cenderung tinggi, masyarakat diminta tetap bertahan di barak pengungsian.

Masih ada kemungkinan Merapi mengalami erupsi eksplosif. Hasil asesmen pada tanggal 28 Desember 2020 menunjukkan probabilitas eksplosif sebesar 28 persen, dan efusif 26 persen. Pekan sebelumnya, probabilitas erupsi efusif mendominasi yakni 31 persen.

Namun karena ada peningkatan kegempaan selama satu minggu terakhir, kemungkinan terjadinya erupsi eksplosif kembali menjadi lebih besar. Namun masih jauh dibawah angka probabilitas saat awal penetapan status Siaga, dimana kemungkinan eksplosif mencapai 51 persen sedangkan efusif hanya 10 persen.