Ini Kolaborasi UGM dan Ditlantas Polda DIY dalam Memerangi Covid-19

YOGYAKARTA, SM Network – Segala upaya dan ikhtiar dilakukan manusia untuk terus menekan penyebaran virus korona yang telah menjadi pandemi di dunia. Termasuk dari kalangan akademisi di Jogja, sejumlah dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil mengembangkan sebuah alat untuk menekan penyebaran virus tersebut.

Bilik Anticovid-19 menjadi nama alat tersebut. Untuk kali perdana, pagi tadi alat itu diujicobakan di Kantor Direktorat Lalu Lintas Polda DIY, kawasan Jetis, Kota Jogja.

“Pertama yang harus dipahami bersama adalah alat ini tak menjamin orang 100 persen terbebas dari virus korona. Jadi harus tetap berhati-hati dan serius menerapkan social distancing sebagaimana himbuan pemerintah,” tutur salah seorang dosen peneliti dari Fakultas MIPA UGM Dr. Mardhani Riasetiawan membuka pembicaraan, Senin (23/3).

Namun, karena sudah menjadi ikhtiar dan niat untuk mencegah virus korona makin menyebar, Mardhani dan lima rekannya yang lain langsung membulatkan tekad untuk membuat bilik tersebut. Setelah perencanaan dirancang, proses pengejerjaannya pun dilakukan. Sayang, proses pengerjaan tak berjalan begitu sempurna karena kampus tempat mereka biasa melakukan riset ditutup sementara setelah kawasan pendidikan terpapar korona.

“Tekad kami sudah bulat untuk merampungkan alat ini. Maka kami pun meminjam salah satu bengkel di Wonokromo, Bantul, milik salah satu anggota tim untuk tempat pembuatan. Alhamdulilah dalam kurun waktu sehari, alat sudah jadi dan hari ini kamu ujicobakan,” paparnya.

Prinsip kerja dari bilik anticovid-19 ini, sebut Mardhani, adalah menyemprotkan embun-embun dari cairan desinfektan yang sudah disiapkan ke seluruh tubuh orang yang berada di dalam bilik. Orang yang berada di bilik diminta berputar 360 derajat sembari bergantian mengangkat kaki dan tangan untuk mendapatkan semprotan dari 14 titik nozle yang terpasang dibeberapa sudut bilik berukuran 2,5 meter x 1,5 meter.

Sebagai pelengkap bilik dilengkapi sensor penanda ada orang di dalam bilik dan secara otomatis langsung tersemprot desinfektan atau secara manual dengan tombol yang dioperasionalkan seorang operator.

“Untuk 1 galon cairan antiseptik dengan rata-rata orang di bilik sekitar 3-4 menit maka bilik ini bisa dipakai hingga 30 orang. Dibanding cara manual maka orang tak perlu menyemprot sendiri karena terprogram bahkan mudah dipindahkan karena bisa dibongkar pasang,” tuturnya.

Karena menjadi sebuah bentuk dedikasi untuk memerangi korona maka Mardhani pun tidak memasang target komersial dari bilik tersebut. Bahkan dia dan timnya mempersilakan orang lain untuk meniru alat yang kalau dirupiahkan menghabiskan biaya pembuatan hingga Rp 3 juta itu.

“Ini yang ingin kami dorong bahwa banyak yang meniru alat kami. Harapannya semakin banyak ditiru maka semakin banyak yang bisa meredam persebaran virus terutama di tempat-tempat kerumunan. Seperti saat ini kami gandeng pihak Ditlantas” jelasnya.

Sementara itu Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIY Kombes Pol I Made Agus Prasatya mengakui pihaknya memesan beberapa bilik anticovid-19 garapan UGM tersebut. Rencananya bilik itu akan dipasang di layanan satlantas se DIY. 

“Bilik ini ditujukan kepada seluruh personel satlantas dan masyarakat. Sebab kami sadar, lokasi layanan satlantas merupakan tempat berkumpulnya massa. Maka, untuk mencegah merebaknya korona kami lengkapi dengan bilik ini,” sambung Made Agus.

Dengan tingkat rata-rata kunjungan 100-150 orang setiap harinya di Kantor Ditlantas Polda DIY maka tingkat kerawanan peredaran virus cukup besar.”Salah satu langkah utama adalah kedisiplinan dalam pencegahan dan ini kami lakukan seperti pembayaran pajak kendaraan online lalu perpanjangan STNK di masa social distancing ini maka perpanjangannya bisa ditoleransi,” tandas Dirlantas.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan