Ini Kendala Polisi Ungkap Perusakan Kebun Kopi

TEMANGGUNG, SM Network – Kasus perusakan kebun kopi di ladang Wono Kembang, Gunung Prau, Kecamatan Tretep, hingga saat ini belum menemui titik terang. Pihak kepolisian menemui kendala tidak adanya saksi mata yang melihat langsung kejadian ini. Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Muhamad Alfan Armin mengatakan, perkebunan kopi itu jaraknya cukup jauh dari permukiman, yakni sekitar 1 kilometer. Pelaku sendiri diperkirakan memanfaatkan kelengahan pemilik atau warga saat melakukan aksi jahatnya.

“Memang agak kesulitan, karena tidak ada saksi mata yang melihat langsung tetapi kami tetap berusaha untuk mengungkap kasus tersebut. Tempat perkebunan kopi itu jauh dari permukiman sehingga tidak ada warga yang melihat secara langsung kejadiannya. Hingga sekarang belum ada tersangka,”ujarnya Selasa (21/1).

Alfan menjelaskan, sampai saat ini pihaknya telah memeriksa intensif sedikitnya 8 saksi terkait perusakan ratusan tanaman kopi di ladang Wono Kembang ini. Akan tetapi saat penyisiran di lapangan sudah banyak orang yang ditanya polisi. “Sekarang kita sudah memeriksa 8 saksi sebelumnya baru 6 saksi yang kita periksa di kantor polisi. Tapi kalau saat melakukan penyisiran kita sudah tanya ke banyak orang,”katanya.

Fokus pemeriksaan saksi, antara lain yang mengetahui pertama kejadian, orang yang melihat terakhir sebelum tanaman kopi dipotong sehingga tahu pola waktunya. Menurut dia, saksi yang diperiksa belum mengarah pada pelaku, tetapi mereka tahu terkait dengan kejadian tersebut. Sebagaimana diketahui pada Senin (13/1), warga Desa Bendungan, Kecamatan Tretep, digegerkan karena sekitar 250 pohon kopi milik Sukiswo dipotong dan dirusak orang yang tidak diketahui identitas dan motifnya.

Dampak Pilkades Serentak

Ratusan tanaman kopi yang berumur lima tahun tersebut diduga dipotong menggunakan gergaji manual. Disinggung apakah kasus perusakan kebun kopi tersebut terkait dampak pelaksanaan pemilihan kepala desa pada 9 Januari 2020, Alfan menyampaikan hal tersebut belum bisa dipastikan. Pasalnya, korban mengaku selama ini netral tidak memihak pihak manapun.

“Berdasarkan keterangan korban, pihaknya netral dan bukan tim sukses dari salah satu calon kades. Bahkan korban yang pengurus pembangunan mushala di dusun tersebut ketika ada calon kades yang menawarkan bantuan semen, ditolak semua, nanti saja kalau sudah terpilih silakan membantu,”terangnya.


Radiya Yoni A

Tinggalkan Balasan