Industri Tahu Kian Kelu, Bahan Baku Sudah Impor Masih Meroket

KEBUMEN, SM Network – Industri tahu di Kebumen kian kelu. Pasalnya, harga bahan baku berupa kedelai yang sudah impor ternyata masih meroket.

“Ya. Semua yang usaha tahu di sini ada sembilan juragan pakai kedelai luar. Kebanyakan dari kedelai Amerika. Sedangkan harganya mahal,” terang seorang pengusaha tahu di Kelurahan Bumirejo RT 03 / RW 01, Kecamatan Kebumen, Salamah (60), Jumat (8/1).

Ia mengaku, usaha yang dirintis sejak tahun 1980 hingga bertahan sampai saat ini tidak terlepas kehadiran kedelai impor. Perajin tahu lainnya di Dukuh Kemitir Kelurahan Bumirejo, Nur Khamid (57) menambahkan, hampir semua perajin di wilayahnya menyiasati dengan mengurangi volume dan bentuk tahu.

“Potongannya dikecilin. Kalau setiap masak 25 kilogram ini dikurangi seperempat,” ucap Khamid. Menurutnya, cara tersebut merupakan solusi jitu untuk menghindari kerugian. Sebab, para perajin tidak ingin ada kelangkaan tahu yang berakibat para konsumen kabur dan beralih ke bahan makanan lain.

“Kalau mau dinaikin sekalian kita yang kasihan karena sudah langganan. Mungkin ini cara biar sama-sama jalan,” ujarnya.

Di lain tempat, pelaku usaha tempe di Desa Bandung, Kecamatan Kebumen, Mufid Basori (43) mengungkapkan, sejauh ini memang ia mengandalkan kedelai impor untuk mencukupi satu kuintal kedelai setiap harinya. Dikatakan, kedelai lokal dari petani kurang mekar kalau dibuat tempe.

Mufid berharap, petani kedelai lokal mampu meningkatkan kualitas dan volume hasil panen guna memenuhi kebubutuhan pasar. Mengingat saat ini harga kedelai melambung tinggi sejak Desember kemarin.

“Sebetulnya sangat disayangkan ketika kedelai saja harus impor, tapi gimana lagi. Sebisa mungkin petani ini juga melirik tanam kedelai karena kebutuhan kita kurang,” jelasnya.

Dengan mengecilkan atau menipiskan bentuk tahu dan tempe, diakui ada komplain dari pembeli. Hal itu terpaksa dilakukan lantaran harga kedelai tinggi. Ia mengungkapkan, harga kedelai mulai merangkak naik sejak Desember 2020, yakni berkisar Rp 7000-7.500 per kilogram. Bahkan menginjak tahun 2021 harga kedelai terus meroket hingga mencapai Rp 9.300 per kilogram.

Bersama sembilan perajin lain di kampungnya, Khamid merasa terbebani dengan kenaikan harga kedelai. Padahal setiap minggu dia membutuhkan sekitar 4-5 kuintal kedelai untuk produksi.

Tinggalkan Balasan