Indogrsir Muncul Jadi Klaster Besar Keempat

YOGYAKARTA, SM Network – Jumlah kasus positif Covid-19 di DIY hingga Jumat (8/5) mencapai 143 pasien. Penambahan kasus cukup signifikan tercatat pada Kamis (7/5) yakni sebanyak 15 pasien terkonfirmasi positif. Data itu bahkan merupakan penambahan yang paling tinggi sejak kasus positif pertama kali ditemukan di DIY pada pertengahan Maret 2020. Namun menurut pakar epidemiologi dari UGM, Riris Andono Ahmad, penambahan kasus itu sudah diantisipasi mengingat kian meningkatnya kapasitas diagnosis Covid-19 di DIY.

“Ke depan, penambahan kasus masih akan terjadi dengan semakin meningkatnya kapasitas diagnosis tersebut. Penularan di komunitas juga diprediksi meluas,” katanya, Jumat (8/5).

Sebelumnya, berdasar hasil penyelidikan epidemiologi dan kontak tracing terdapat tiga klaster besar penyebaran Covid-19 di DIY yang semuanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan. Tiga klaster itu masing-masing jamaah tabligh di Sleman dan Gunung Kidul, serta klaster Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Margomulyo di Kota Yogyakarta.

Terbaru, muncul pula klaster supermarket Indogrosir. Klaster ini diawali dengan temuan satu kasus positif yang merupakan karyawan supermarket tersebut pada tanggal 24 April. Sejauh ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman telah melakukan rapid tes terhadap setidaknya 344 karyawan Indogrosir. Hasilnya, 61 orang diantaranya dinyatakan reaktif dan saat ini masih menunggu hasil pemeriksan swab untuk memastikan positif atau tidaknya terpapar Covid-19.

“Klaster besar keempat tersebut menunjukkan indikasi penularan lokal sudah meluas,” kata pria yang akrab disapa Doni itu.
Dengan skala penularan yang sudah meluas, maka temuan kasus dilakukan melalui pendekatan skrining dibandingkan dengan melakukan kontak tracing. Di lain sisi, masyarakat juga diimbau agar selalu waspada terhadap potensi penularan yakni dengan cara melakukan social distancing secara konsisten.

Imbauan juga diberikan kepada semua pelaku bisnis, terutama bisnis retail maupun layanan jasa yang berhubungan dengan banyak konsuen. Pengusaha disarankan untuk memiliki protokol pencegahan infeksi yang memadai, dan menyediakan fasilitas cuci tangan di tempat usaha.

“Pastikan pula pembatasan jumlah pengunjung dan jarak antar pengunjung per satuan waktu,” ujar dia.
Protokol pencegahan akan membantu para pebisnis untuk memastikan tempat usaha mereka tidak menjadi sarana potensial penularan Covid-19. Dengan demikian, bisnis mereka dipastikan tetap dapat berjalan.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan