Arif Widodo

Oleh : Arif Widodo

MELEJITNYA fenomena Mas Koko, akronim kotak kosong dalam menghadapi Pilbup 2020 di Kebumen, memantik sejumlah kalangan untuk mencari sesuatu yang bisa mengimbangi frase calon tunggal. Tertujulah pada kata-kata Ora Si Arif yang diluncurkan oleh saya.

Ya. Saat inilah kata-kata Ora Si Arif menemukan momentumnya, ketika semua partai politik hanya mengajukan calon tunggal atau satu pasangan bakal calon bupati – wakil bupati. Sebagaimana disampaikan oleh politisi muda Partai Gerindra, Ma’rifun Arif yang juga Mantan Anggota DPRD Kebumen periode 2014 – 2019, melalui pesan media sosial WhatsApp.

Kata-kata Ora Si Arif itu memang seperti merujuk kepada kandidat bupati yang diajukan sebagai calon tunggal, yakni Arif Sugiyanto. Ia yang sekarang menjabat sebagai wakil bupati Kebumen itu didampingi bakal calon wakil bupati Ristawati Purwaningsih untuk maju Pilkada 9 Desember 2020.

Arif Sugiyanto duduk di kursi AA 2 dengan menempuh proses pengisian wakil bupati antar waktu yang dipilih oleh anggota DPRD Kebumen pada 2019. Dalam proses tersebut, saya mendaftar melalui salah satu partai pengusung, yaitu Partai Demokrat. Selanjutnya, saya mendaftar lagi sebagai bakal calon wakil bupati melalui DPC PDI Perjuangan Kebumen untuk menghadapi Pilbup 2020.

Dalam proses penjaringan dan penyaringan kandidat, saya tidak mendapatkan rekomendasi. Sedangkan Arif Sugiyanto mengantongi tiket dari partai berlambang banteng dalam lingkaran tersebut. Disusul kemudian memperoleh rekomendasi dari partai lainnya. Mulai Partai Golkar, PKB, Partai Gerindra, PPP, Partai Nasdem, PAN, Partai Demokrat dan PKS.

Rekomendasi dari seluruh partai yang memiliki 50 kursi DPRD Kebumen itu sementara mengarah calon tunggal. Maksud saya menyebut sementara karena kepastiannya masih menunggu sampai pendaftaran bakal calon bupati – wakil bupati di KPU. Itu pun jika tidak ada perubahan lagi pada 4 – 6 September 2020, lantaran belum redanya wabah korona atau Covid-19.

Hingga pada waktunya akan ditetapkan sebagai calon. Apakah hanya ada calon tunggal atau terdapat calon lainnya. Sementara Ora Si Arif saya luncurkan setelah tidak memperoleh tiket maju sebagai bakal calon wakil bupati. Maknanya, Ora Si Arif itu bukan saya yang mendapatkan rekomendasi. Adapun peluncurannya bertepatan masa beraktivitas di rumah gegara korona.

Penyampaian dalam beberapa episode Ora Si Arif pun di rumah saya, Dukuh Tepus Kidul, RT 03 / RW 01, Desa Jogopaten, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen. Di mana Ora Si Arif yang berisi orasi saya itu dinarasikan dengan dukungan pernyataan-pernyataan membangun. Ini sekaligus untuk mempertegas dan memperjelas adanya tindak lanjut pendirian Kebumen Beriman yang saya tuangkan dalam berbagai orasi.

Tindaklanjut pendirian Kebumen Beriman itu diawali dengan komitmen ulama dan umaro pada 17 Mei 2012. Komitmen tersebut berisi tentang kesanggupan segenap komponen masyarakat menyumbangkan jiwa dan raga untuk mewujudkan Kebumen Beriman. Kemudian dilaksanakan seminar dengan tema “Menggali Nilai-nilai Kebumen Beriman” di Aula Setda pada 20 Desember 2014.

Selanjutnya digemakan dalam acara bertajuk “Sejuta Cinta untuk Kebumen Beriman” di Islamic Centre pada 8 Agustus 2015, sekaligus peluncuran Warung Debuz dengan tagline “Tempat Diskusi Tanpa Diskriminasi. Debuz Is The Best”. Lebih dari itu, gaung Ora Si Arif yang diunggah melalui media sosial kian membangkitkan Warung Debuz.

Seperti halnya Ora Si Arif yang menekankan nilai-nilai kejuangan dan kebaikan, Warung Debuz yang berisi obrolan santai itu juga demikian. Hanya saja dibuat kemasan berbeda. Awal pengoperasian Warung Debuz di ruang teater Disarpusda Kebumen pada 7 April 2017, dengan mengangkat diskusi perdana bertema “Mengembalikan Marwah Daerah”. Kali ini disebarkan pula di media sosial seperti YouTube dan Facebook.

Rupanya, media sosial memberi kekuatan nyata. Bahkan atas kehendak media itu pula telah melahirkan budaya populer. Terkait hal tersebut, Dominic Strinati (2007) dalam karyanya berjudul “Populer Cutlure” memberikan penjelasan lebih lanjut. Menurutnya, jika media mampu memproduksi sebuah bentuk budaya, maka publik akan menyerapnya. Di samping itu juga menjadikannya sebagai sebuah bentuk kebudayaan.

Sedangkan populer tidak terlepas dari perilaku konsumsi dan determinasi media massa terhadap publik yang bertindak sebagai konsumen. Sehingga, saya pun menyikapi secara bijaksana terhadap Ora Si Arif. Karena, keberadaannya memang populer di tengah-tengah masyarakat Kebumen. Terutama mereka yang menghendaki kotak kosong terisi dan menanti calon lain ikut berkompetisi dalam pesta demokrasi.

Oleh Arif Widodo, wartawan Suara Merdeka, dosen IAINU Kebumen

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here