SM/Amelia Hapsari - SAMPAH MENUMPUK : Sampah terlihat menumpuk di bawah Jembatan Sanggrahan, Condongcatur, Sleman pada Jumat (13/3).

SLEMAN, SM Network – Menjadi daerah dengan jumlah penduduk paling banyak se-DIY, Kabupaten Sleman menyimpan beragam problematika. Salah satunya adalah persoalan tentang sampah.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mencatat, volume sampah harian yang dihasilkan tiap orang rata-rata 0,6. Dikalikan total jumlah penduduk, maka jumlah limbah yang ditimbulkan per hari mencapai kurang lebih 600 ton. Dari 600 ton sampah itu hanya sekitar 230 ton yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul.

Sedangkan sebagian besar sisanya, menurut Kepala DLH Sleman Dwi Anta Sudibya, diolah sendiri oleh masyarakat. “Sisanya itu bukan sampah liar ya. Jangan ada anggapan seperti itu, karena diolah masyarakat terutama yang tinggal di wilayah pedesaan,” kata Dibya, Kamis (24/9).

Pihaknya mengklaim sudah gencar melakukan razia sampah liar. Di lain sisi, pembuangan sampah ke TPA tidak dianggap serta-merta menyelesaikan permasalahan. Pasalnya, investasi yang dibutuhkan untuk pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), nilainya tidak sedikit. Hasil pembahasan terakhir dengan Bank Dunia, biayanya mencapai Rp 580 ribu per ton.

“Kami sedang mencermati lagi perhitungannya. Kalau secara kasarannya, untuk mengolah 600 ton sampah butuh investasi Rp 300 juta per hari,” jelasnya.

Karena nilai yang fantastis itu, DLH terus mendorong warga untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri melalui bank sampah maupun TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle). Sekarang sudah ada 207 bank sampah, dan 24 TPS3R.

Di bank sampah dan TPS3R, sampah benar-benar dipilah. Berbeda dengan sampah yang dibawa ke TPA, dimana umumnya masyarakat asal membuangnya saja tanpa pemilahan. Kesadaran warga memilah sampah diakui Dibya masih minim. Dari total timbulan sampah, baru sekitar 22 persennya saja yang dipisahkan. Padahal target nasional hingga tahun 2025 adalah pengurangan sampah sebesar 30 persen.

“Maka itu, kami punya skenario bank sampah dan TPS3R harus ada minimal di sepertiga dari keseluruhan jumlah dusun, yang berarti sekitar 400 dusun,” urainya.

Targetnya, tiap tahun bisa menambah 25 bank sampah. Untuk mewujudkan sasaran itu, DLH menyiapkan anggaran guna pembentukan kelembagaan. Masyarakat yang berminat membentuk bank sampah akan dilatih kemudian diajak studi banding ke lokasi di Sleman. Selain itu juga diberi bantuan sarpras sederhana seperti tong sampah, pengomposan, dan gerobak.

1 KOMENTAR