Gunakan Pengeras Suara Masjid, Warga Dusun Ngoto Bantul Pilih Shalat Tarawih di Rumah Saja

AKSI tahlilan melalui horn (pengeras suara di masjid) yang dilakukan warga Dusun Ngoto, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, DIY untuk mendoakan salah satu warganya meninggal dunia di tengah pandemi Covid-19 sempat viral di media sosial. Kali ini warga di dusun yang sama kembali membuat gebrakan dalam hal ibadah Ramadan tahun ini yang berlangsung dalam suasana wabah korona. Ya, warga memilih Sholat Tarawih di Rumah saja dengan dipimpin dua orang yang berada di masjid setempat. Ini kisahnya:

“Barangsiapa sholat malam di bulan Ramadhan (sholat tarawih) karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampunkanlah dosa-dosanya yg telah lalu” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Salah satu takmir Masjid Nurul Huda Dusun Ngoto, Umaruddin Masdar pun mengambil hadist tersebut saat suaramerdekakedu.id menanyakan alasan warga setempat menggelar Sholat Tarawih di rumah saja. Menurut dia, hadist tersebut sudah jelas menunjukkan keutamaan Sholat Tarawih. Namun karena situasi pandemi Covid-19 dan instruksi pemerintah agar masyarakat beribadah di rumah saja untuk menghindari kerumunan maka, Masjid Nurul Huda meniadakan tarawih berjamaah seperti Ramadan sebelumnya.

“Tapi dengan niat ingin menghidupkan syiar bulan penuh berkah, dan menambah semangat serta meningkatkan kekompakan warga, takmir mengajak untuk sholat tarawih bersama di rumah masing-masing, dengan panduan seorang imam dan bilal dari masjid,” jelas Umar, sapaan akrabnya, Jumat (24/4).

Umar menyebutkan, setidaknya ada 500 jamaah yang selalu memadati Masjid Nurul Huda Ngoto saat Sholat Tarawih berjamaah pada Ramadan Ramadan sebelumnya. Maka, mulai Kamis (23/4) malam sebagai tarawih perdana pada Ramadan tahun ini, hanya ada Umar yang bertindak sebagai imam dan Sukedi sebagai bilal di masjid tersebut. Selanjutnya mereka berdua memimpin tarawih 20 rakaat dengan tiga witir yang diikuti warga setempat dari rumah mereka masing-masing.

“Ini bukan sholat berjamaah, tapi sekadar untuk menambah semangat dan kebersamaan untuk menunaikan ibadah sholat tarawih. Sekali lagi, di masjid hanya akan dihadiri 2 orang yang ditunjuk takmir yaitu imam dan bilal sementara warga dimohon tarawih di rumah masing-masing,” tutur pengasuh Majlis Zikir Hayatan Thoyibah Bantul itu.

Tak hanya Sholat Tarawih di rumah saja, Umar menyebut di Masjid Nurul Huda Ngoto selama Ramadan ini juga mengkreasi ceramah menjelang buka puasa. Kalau biasanya diadakan ceramah takjil dilanjutkan buka puasa bersama di halaman masjid. Namun karena situasi pandemi Covid-19, dan niat kuat menjalankan instruksi pemerintah agar beribadah #DiRumahSaja, kegiatan ceramah menjelang buka puasa dan buka bersama di Masjid Nurul Huda tahun ini ditiadakan.

“Sebagai gantinya, agar syiar Ramadan tetap berjalan, diputarkan ceramah dari para ulama yang disiarkan lewat horn masjid, dan warga dipersilakan mendengarkan dengan santai dari rumah masing-masing sembari menunggu waktu berbuka,” ungkapnya.

Setidaknya ada tiga kyai yang ceramahnya akan diputar dengan format MP3 mulai pukul 17.00 setiap sore hari. Ketiga kya itu ada KH Anwar Zahid, KH Muh Syaerozi dan Habib Umar Muthohar.

“Bersamaan dengan pemutaran ceramah, panitia Ramadan Masjid Nurul Huda dibantu para pemuda membagikan nasi kotak untuk semua KK warga Ngoto yang diantarkan langsung ke rumah-rumah warga. Nasi kotak untuk buka puasa itu merupakan sodaqoh dari para warga dan jamaah,” ungkap Umar.

Umar menyebut apa yang dilakukan warga Dusun Ngoto lebih pada hal di tengah pandemi, ibadah tetap bisa dilaksanakan, syiar Ramadan tetap bisa diagungkan, hanya perlu sedikit kreatif. Kemudian dia minta jangan sampai karena pandemi orang kemudian meninggalkan ibadah karena tokoh agamanya tidak bisa memberi solusi. Atau sebaliknya, tetap nekad beribadah dengan melawan anjuran pemerintah, yang dianggapnya sebagai suatu hal yang tak bijak.

“Sebagian besar warga dan tokoh masyarakat di dusun ini sepakat bahwa keputusan pemerintah adalah hukum tertinggi, dan warga atau jamaah tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan takmir,” tutup Umar.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan