Geliat Petani Tembakau di Masa Pandemi Korona

PANDEMI virus korona tak hanya berdampak pada kesehatan semata, tapi juga telah memporak-porandakan sektor perekonomian di seluruh dunia. Tak terkecuali hal itu dirasakan oleh para petani tembakau, yang selama ini melalui hasil pertaniannya pada dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) telah menyumbang devisa negara dan menjadi salah satu soko guru perekonomian negara Indonesia.

Badai wabah Covid-19 yang tanpa ampun menggilas semua sendi kehidupan bangsa menjadi pukulan telak bagi petani tembakau, selain rong-rongan impor dan perang dagang dengan industri asing. Tapi bukan petani tembakau namanya jika tak memiliki daya tahan dan daya juang tinggi. Kini ditengah hantaman situasi yang serba tak menentu ini, di masa-masa sulit penuh ketakutan dan serba kepesimisan ini, mereka kaum tani mencoba berdiri tegak di antara langkah gontai untuk tetap menanam tembakau.

Ya, bagi mayoritas petani di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau di Kabupaten Temanggung, bercocok tanam tembakau berarti ada harapan besar untuk bangkit dari keterpurukan, tak peduli di masa sesulit apapun. Kini di musim tanam tahun 2020 pun asa itu tetap ada di sanubari mereka, seolah mereka berpegang pada semboyan “tembakau atau mati”.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji mengatakan, memang petani di sentra pertembakauan disarankan tetap menanam tembakau meski di masa pandemi Covid-19. Di ladang selain bercocok tanam juga sekaligus menerapkan social distancing, sehingga bisa memotong mata rantai penyebaran korona.

“Kami sarankan petani tembakau tetap ke ladang merawat tanamannya. Lebih baik ke ladang justru bisa memotong mata rantai penyebaran virus korona, dari pada ke pasar atau ke tempat keramaian lainnya. Walaupun saat ini pandemi korona tetapi bagaimanapun petani tembakau kita sarankan tetap berkarya untuk membantu ke depan nanti tentang fondasi ekonomi bila mana korona ini berkepanjangan,”katanya kepada Suara Merdeka, kemarin.

Dikatakan, rencana tanam tembakau di Indonesia masih tetap seperti semula sekitar 245.000 hektare, karena di sentra-sentra pertembakauan itu hanya tanaman yang cocok dan terbukti untuk menopang ekonomi adalah tanaman tembakau.

Namun demikian, para petani tetap mendesak pemerintah agar segera melaksanakan pembatasan impor tembakau agar penyerapan tembakau lokal bisa maksimal. Jika impor tetap mengalir deras maka sama saja membuka gerbang kehancuran bagi kaum tani di negeri agraris ini.

Padahal selama ini, dengan kontribusi cukai yang ada di Indonesia bisa membantu darurat wabah di negara ini dan digunakan untuk penanganan korona. Pertembakauan adalah sebuah industri dari hulu ke hilir yang dikelola oleh rakyat tetapi hasilnya dinikmati oleh negara dan rakyat.

“Kami berharap pemerintah segera melaksanakan pembatasan impor tembakau agar penyerapan tembakau lokal bisa maksimal atau pemerintah untuk segera mengaplikasikan Permentan 23 tahun 2019 tentang Rekomtek tembakau demi melindungi kedaulatan petani tembakau nasional. Ketika volume rokok turun, penyerapan bahan baku turun maka yang harus dimaksimalkan adalah bahan baku petani nasional. Apabila petani makmur industrinya subur dan negara tidak hancur,”katanya.

Agus mengatakan, dalam situasi masyarakat desa dan petani berjuang, bergotong-royong dengan pemerintah desa, kelembagaan serta kelompok kepemudaan untuk melawan korona ada kekhawatiran dari komunitas petani tembakau yang menjadi bagian dari elemen ekosistem industri hasil tembakau (IHT). Adanya wabah korona yang diikuti dengan aturan pembatasan ruang gerak bagi setiap warga justru di sini dikhawatirkan kementerian terkait atau pemerintah pusat akan membuat arah kebijakan yang tidak pro kedaulatan petani tembakau, dengan membuka kran impor besar-besaran tanpa koordinasi dengan pelaku pertembakauan.

Di sisi lain meski pihak pabrikan berjanji tetap melakukan pembelian tembakau nasional pada masa pandemi ini, tapi pihak industri akan mengurangi kuota pembelian. Hal ini juga sebagai dampak daripada kebijakan pemerintah yang tidak populis dengan menaikkan cukai ditambah lagi ada faktor melemahnya ekonomi sebagai imbas dari wabah Covid-19, di mana di sini ada penurunan volume penjualan rokok di setiap industri.

“Semoga industri di masa panen segera mempersiapkan sistem dan mekanisme tentang tata niaga yang tidak melanggar aturan dan anjuran pemerintah dalam melawan penyebaran wabah virus korona. Ini yang sangat kami khawatirkan, dengan kondisi saat ini tentang arah kebijakan pemerintah. Semoga pandemi ini segera berakhir dan pemerintah pusat di lintas kementerian segera membuat kebijakan yang sehat prokedaulatan petani tembakau nasional dengan mempertimbangkan usulan dan masukan petani,”katanya.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung, memperkirakan luas tanaman tembakau pada masa tanam 2020 antara 15.000 – 15.500 hektare. Luasan itu turun apabila dibandingkan dengan masa tanam tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka 16.500 hektare. Adapun untuk varietas yang ditanam adalah varietas tembakau kemloko, yang cocok ditanam di tegalan, maupun lahan sawah.

Mayoritas tanaman tembakau di Temanggung didominasi di lahan tegalan, hampir 70 persen yang berada di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prahu, sedangkan di lahan sawah hanya 30 persen. Dengan urutan masa tanam tembakau diawali dari petani di lereng Gunung Prahu, biasanya mulai tanam tembakau sekitar akhir Febuari hingga bulan Maret.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung Untung Prabowo, mengatakan, 16 kecamatan di Kabupaten Temanggung merupakan penghasil tembakau, antara lain Kledung, Bansari, Tretep, Wonoboyo, Candiroto, Parakan, Bulu, Tlogomulyo, Kedu, dan Selopampang. Di Temanggung hanya ada empat kecamatan yang tidak ada lahan tembakaunya, yakni Kecamatan Pringsurat, Kaloran, Kranggan, dan Kandangan dan jika pun ada hanya sedikit.

“Urutan masa tanam dari Gunung Prau di mana di sini ada Kecamatan Tretep, Wonoboyo dan sebagian Kecamatan Candiroto. Lalu petani di lereng Gunung Sindoro mulai tanam awal Maret hingga akhir April, selanjutnya petani di lereng Gunung Sumbing mulai tanam pertengahan Maret hingga April, tapi ada sebagian petani di lereng Gunung Sumbing yang tanam tembakaunya akhir Maret hingga bulan Mei, kemudian petani di Kecamatan Selopampang dan Tembarak, tanam paling akhir, biasanya bersamaan dengan petani di area sawah,”katanya.


Raditia Yoni Ariya

Tinggalkan Balasan