Fenomena “Ratu Adil”, Keraton Agung Sejagad Dilihat Dari Kacamata Sejarah

BERKUDA: Raja Keraton Agung Sejagad, Totok Santosa Hadiningrat, menaiki kuda saat acara kirab di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu. SM/Dok

PURWOREJO,SM Network – Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr Sudibyo, mengaitkan kemunculan Keraton Agung Sejagad, dengan fenomena ratu adil. Sebuah mitologi jawa yang meyakini akan hadirnya satrio piningit (pemimpin) yang akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Menurut Sudibyo, sosok raja dalam Keraton Agung Sejagad yang disebut Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat, memberikan harapan kepada masyarakat akan kembalinya masa kejayaan jawa pra islam, dimana kejayaan jawa akan kembali terulang.

“Cerita itu memang ada dikalangan masyarakat jawa, namun memang tidak dibukukan, hanya diceritaakan secara turun-temurun melalui lisan. Tidak ada sejarah yang tertulis resmi. Cerita/keyakinan ini  terdapat didalam masyarakat penghayat kepercayaan jawa,” kata Sudibyo, kepada Suara Merdeka, dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa(14/01/2020).

Sudibyo mengatakan, fenomena serupa sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Sebagai contoh adalah peristiwa perang Diponegoro, yang pada saat ini masyarakat meyakini, bahwa Pangeran Diponegoro adalah ratu adil yang akan membawa pengikutnya kepada kejayaan.

Dizaman yang berbeda, Sudibyo, juga mencontohkan adanya tokoh yang bernama Sawito Kartowibowo. Tokoh ini disebut guru oleh para pengikutnya. Bahkan, dari sekian banyak muridnya, adalah tokoh-tokoh politik nasional.

“Tokoh Sawito Kartowibowo ini ada pada zaman Pak Harto. Dia adalah penghayat kepercayaan yang memiliki banyak pengikut, bahkan tokoh nasional banyak yang menjadi muridnya. Gerakan dari kelompok pengikut Sawito ini dulu dianggap makar oleh pemerintah,” kata sejarawan asal Purworejo ini.

Belajar dari fenomena serupa yang pernah terjadi sebelumnya, Sudibyo, sedikit menarik kesimpulan bahwa Keraton Agung Sejagad ini perlu diwaspadai karena kelompok tersebut juga menghimpun kekuatan, yakni masyarakat yang mau mempercai dan menjadi pengikutnya.

Kendati demikian, Sudibyo, juga melihat keunikan dari Keraton Agung Sejagad, yakni pada subyek yang menjadi inisiator. Pada fenomena ratu adil sebelumnya biasanya diinisiasi oleh masyarakat atau pengikutnya, namun kali ini justru sang raja yang mendeklarasikan diri.

“Latar belakang kemunculan kelompok ini juga sepertinya bukan karena latar belakang kekecewaan politik sejauh saya mengamati dari beberapa pemberitaan, walaupun hal secara teori mungkin saja dikarenakan oleh itu,” tuturnya.

Disisi lain, lanjut Sudibyo, Keraton Agung Sejagad ini juga terkesan hanya cari sensasi. Meski patut diwaspadai, Ia menilai gerakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut tidak menunjukan suatu hal yang cukup serius.

“Terkesan lucu-lucuan, meskipun tetap harus diwaspadai. Dalam hal ini masyarakat supaya hati-hati terhadap kelompok seperti ini, karena ada pula yang gerakan-gerakan semacam ini yang mengarah pada penipuan masal,” katanya.

Kepada aparat penegak hukum, Sudibyo, meminta supaya fenomena Keraton Agung Sejagad betul-betul dikaji.

“Apa motif sebenarnya, ini harus jelas,” pungkasnya.

Heru Prayogo

1 KOMENTAR