SM/Amelia Hapsari - Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo

SLEMAN, SM Network – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengeluarkan surat edaran ditujukan rumah sakit dan puskesmas bahwa mulai tanggal 20 November 2020, fasilitas kesehatan darurat Covid-19 tidak dapat menerima pasien.
Kebijakan ini berlaku sampai dengan 30 November 2020.

Sebagai solusi, rumah sakit diminta bersedia menampung pasien Covid-19 asimptomatis. Pasalnya selama ini, rumah sakit enggan merawat pasien tanpa gejala lantaran khawatir terbentur klaim BPJS.

Adapun jumlah rumah sakit rujukan ada 12, dengan total kapasitas 200 kamar isolasi. Sedangkan rumah sakit yang ditunjuk sebagai intermediate ada 14.

“Surat keterangan yang kami keluarkan itu sekaligus sebagai pegangan bagi rumah sakit. Karena kalau tidak ada pernyataan dari Dinkes, dikhawatirkan tidak bisa mengklaim pembiayaan pasien,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo, Jumat (20/11).

Di Sleman sendiri terdapat dua faskes darurat yakni Asrama Haji, dan rusunawa Gemawang. Masing-masing memiliki kapasitas 138 kamar dan 74 kamar. Namun fasilitas kamar yang tersedia sudah penuh.

Disamping mengalihkan pasien asimptomatis ke rumah sakit, Dinkes dan BPBD Sleman juga akan mengupayakan aktivasi shelter Balai PMD Kemendagri di Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan. “Harapan kami, Pemda DIY juga bisa membuka faskes darurat,” ujar Joko.

Kasus Covid-19 di Sleman beberapa hari terakhir mengalami lonjakan tajam. Pada Jumat (20/11) tercatat tambahan kasus positif sebanyak 16 pasien, sedangkan Rabu (18/11) dan Kamis (19/11) berturut-turut sejumlah 65 dan 52 kasus.

Saat ini, total jumlah kasus aktif mencapai 340 pasien dan hanya 65 orang yang dirawat di rumah sakit. Mayoritas sisanya menjalani perawatan di faskes darurat, dan isolasi mandiri. Terkait kemungkinan korelasi lonjakan kasus dengan momentum libur panjang akhir Oktober lalu, Joko mengakui ada asumsi tersebut kendati belum terdapat kajian spesifik.

Jika dicermati, kenaikan kasus itu terjadi dalam kurun 14 hari setelah masa liburan dimana aktivitas pergerakan manusia, tinggi. Namun sewaktu momentum liburan, Dinkes sudah melakukan skrining dan hasilnya diklaim tidak signifikan.
“Dengan peningkatan kasus ini, Sleman yang sebelumnya sudah masuk zona kuning sekarang jadi zona merah,” tandas Joko.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here