Empat Destinasi Wisata di Kabupaten Magelang Siap Beroperasi

MUNGKID, SM Network – Empat Destinasi Wisata di Kabupaten Magelang, siap beroperasi kembali di tengah masih merebaknya pandemi Covid-19. Hal ini seiring dengan sudah selesainya pendampingan Self Delcare Pelaku Destinasi Wisata menuju Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) terhadap para pelaku wisata di kabupaten tersebut yang dilakukan Badan Otorita Borobudur.

Dalam acara tersehut juga dilakukan deklarasi dan penandatanganan plakat oleh Direktur Utama BOB Indah Juanita. Serta Kepala Disporapar Jawa Tengah Sinoeng Noegroho Rachmadi, Kepala Disparpora Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso dan Direktur Lembaga Serfitikasi Bhakti Mandiri Wisata Indonesia, Hairullah Gazali.

Dimana sebelumnya sebanyak 50 peserta dari pengelola empat Desa Wisata di Kabupaten Magelang mendapatkan pendampingan dengan pelaksanaan waktu berbeda-beda. Mereka yakni 20 peserta pengelola Desa Wisata Kenalan yang mendapat pendampingan 14 sampai 20 September, lalu 10 pengelola Desa Wisata Ketep Pass (16-28 September) 10 orang pengelola Desa Wisata Banyuroto (16-28 September) dan 10 orang pengelola Desa Wisata Wulunggunung (16-28 September).

Direktur Utama BOB, Indah Juanita berharap kegiatan ini mampu meningkatkan sumber daya manusia yang siap menghadapi AKB di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. “Jadi para pengelola destinasi wisata ini setelah mendapakan pelatihan dan pendampingan maka mereka siap declare,” jelas Direktur Utama Badan Otorita Borobudur Indah Juanita, Selasa (29/8) di Obyek Wisata Ketep Pass.

Dalam pelaksanaan pendampingan kemarin, lanjutnya telah dilakukan sosialisasi, Pelatihan, Pendampingan, dan Self Declare Adaptasi Kebiasaan Bar. Yakni terkait implementasi protokol Adaptasi Kebiasaan Baru, penghitungan carrying capacity alur wisatawan, pemetaan zonasi wisatawan; dan taffic management di destinasi wisata Embung Senja.

“Selain itu, BOB juga telah memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam menunjang implementasi Adaptasi Kebiasaan Baru kepada pengelola wisata di Kabupaten Magelang,” ujarnya.

Indah menjelaskan, sebagai persiapan menuju New Normal Tourism maka beberapa perlu dilakukan penyesuaian tata laksana kunjungan wisatawan sesuai dengan aturan dan protokol kesehatan di daya tarik wisata. Protokol kesehatan yang telah disusun pun perlu disosialisasikan kepada pengelola daya tarik wisata agar bersiap dan sebagai upaya untuk memenuhi protokol tersebut.

“Jadi pemenuhan protokol tersebut akan dilakukan dan dikawal agar sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya daya tarik wisata yang telah memenuhi protokol akan mendapatkan pengakuan berupa sertifikat Self Declare dari lembaga sertifikasi sehingga akan meningkatkan rasa kepercayaan kepada wisatawan saat berkunjung ke daya tarik wisata,” tegas Indah.

Sementara itu Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB, Bisma Jatmika, mengakui pandemi Covid-19 telah menghentikan hampir seluruh kegiatan di sektor pariwisata. Dia mencatat untuk sektor pariwisata di Jawa Tengah saja, kerugian yang ditimbulkan akibat pandemi ini sampai Maret tahun 2020 sebesar Rp 33 Milyar.

Disamping itu, terdapat 690 destinasi wisata terpaksa ditutup dan 275 destinasi yang terlapor dampak langsung pandemi ini. Dari desa wisata yang ada di Jawa Tengah yakni 441 desa wisata, sebanyak 139 desa wisata terpaksa ditutup untuk penyesuaian pandemi ini.

“Wabah global ini memaksa manusia untuk memproduksi tatanan baru bagi seluruh aspek kehidupan. Industri pariwisata yang terlahir dari pergerakan manusia harus melakukan penyesuaian baru. Berbagai kebijakan pembatasan baik tingkat nasional maupun daerah yang diberlakukan untuk mencegah menyebarnya virus tersebut akhirnya mempengaruhi laju pergerakan industri pariwisata,” kata Bisma.

Dengan kondisi tersebut, industri pariwisata dipaksa berbenah dan menyusun strategi pemulihan pasca pandemi dengan tetap mengedepankan konsep sustainable development goals.

“Konsep pariwisata ramah lingkungan sudah saatnya diterapkan dengan menggunakan prosedur ataupun protokol Kesehatan yang sudah disusun oleh beberapa ahli,” jelas dia.

Menurutnya dampak dari adanya pandemi ini, memaksa adanya kebaharuan strategi untuk membangkitkan kembali industri guna memicu roda pergerakan perekonomian masyarakat. Pelaku usaha pariwisata sudah selayaknya diberi stimulus untuk membangkitkan kembali usaha yang dijalaninya. Salah satu upaya untuk menggerakan kembali semangat optimisme pelaku wisata adalah dengan pemberian pelatihan sebagai sarana peningkatan pengetahuan keilmuan yang terkait dengan adaptasi kebiasaan baru.

“Narasi positif harus segera dimunculkan untuk membuat kepercayaan masyarakat menyambut adaptasi kebiasaan baru sektor parekraf,” tandas Bisma.

Kepala Disporapar Jateng, Sinoeng Noegroho Rachmadi, mengatakan bahwa deklarasi ini merupakan salah satu sinergitas bersama, dan semua pihak harus mengambil peran.

“Ini merupakan suatu sinergitas antara BOB, Pemkab Magelang, dan Disporapar Jateng untuk secara bersama-sama membangkitkan pariwisata yang ada di sini. Tentu ini akan memantik kolaborasi-kolaborasi baik vertikal maupun horisontal maupun jajaran yang ada di Jawa Tengah,” ujarnya.

Ia juga sangat menyambut baik kegiatan yang diadakan oleh BOB ini, dalam membangun rintisan desa wisata. “Agar kedepan, prediksi yang disampaikan oleh para pakar, bahwa kebangkitan itu satu-satu akan diawali dengan destinasi wisata yang open space. Jadi kalau Magelang ini menawarkan banyak desa wisata itu potensialnya besar,” ujar Sinoeng.

Ia juga mengungkapkan bahwa kedepan 45 persen didominasi oleh milenial. “Yuk kalau begitu dua peluang open space, desa wisata kemudian milenial mejadi segmentasi yang luar biasa. Dan tidak mungkin, nanti kebangkitan itu kita mulai dari Magelang,” tandasnya.

1 Komentar

  1. 49607 59641Very excellent post, thanks a lot for sharing. Do you happen to have an RSS feed I can subscribe to? 715376

Tinggalkan Balasan