Eks Stasiun Berubah jadi Panti Pijat

MUNGKID, SM Network – Jalur perkereta apian di Kabupaten Magelang, masih meninggalkan jejak seperti stasiun yang berada di Desa Blondo, Kecamatan Mungkid. Kini bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi tidak semestinya. Menurut Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, sebagai komunitas pemerhati dan pelestari sejarah dan bangunan cagar budaya di Magelang, menuturkan terdapat banyak stasiun di jalur perlintasan kereta api Magelang – Yogyakarta yang saat ini kondisinya tidak sama.

“Yang paling istimewa kondisi bangunannya adalah stasiun Mertoyudan, bahkan sampai sekarang masih lengkap dengan bangunan rumah dinas Kepala Stasiun Mertoyudan, di Jalam Mayjen Bambang Sugeng,” terang Bagus, Rabu (22/1).

Stasiun Mertoyudan dibangun pada tahun 1898 oleh perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada jaman kejayaannya, stasiun ini ramai oleh masyarakat sekitar menuju ke Yogyakarta atau Semarang. Namun sekitar tahun 70an, stasiun-stasiun di jalur tersebut tutup, dikarenakan kalah dengan moda transportrasi lainnya, seperti bus dan minibus yang berjalan lebih cepat diatas jalan beraspal.

Adapun stasiun di jalur tersebut, selain stasiun Mertoyudan adalah Stasiun Japunan Danurejo, Stasiun Blondo, Stasiun Blabak Mungkid, Stasiun Palbapang, Stasiun Muntilan, Stasiun Jumoyo dan stasiun kecil lainnya hingga masuk ke wilayah Jogjakarta.

“Stasiun lainnya dijalur Magelang – Jogjakarta selain Stasiun Mertoyudan kondisinya memprihatinkan, seperti Stasiun Blabak yang sudah dibongkar tinggal tembok belakangnya saja. Bahkan stasiun lainnya sudah tidak ada wujud bangunannya,” terang Bagus.

Adapun untuk Stasiun Blondo, meskipun masih berdiri, namun separuh lebih bangunan sudah dirubah. Meskipun dibeberapa bagian bangunan masih dijumpai ornamen khas bangunan Belanda, seperti daun jendela dan kusen pintu.

“Bangunannya sudah berubah, sekilas sudah tidak menampakan bangunan bekas stasiun. Namun jika diperhatikan masih ada unsur peninggalan Belanda seperti jendela dan kusen pintu,” tandas Bagus.

Bangunan Penduduk

Saat ini bekas Stasiun Blondo sudah beralih fungsi sebagai tempat pijat. Termasuk sekitar rel kereta api sudah dikepung oleh bangunan pemukiman penduduk. Bagus Priyana berpendapat, bentuk stasiun harus memperhatahankan wujud bangunan sebagai stasiun, jangan sampai berubah bentuk kehilangan ciri khas sebagai stasiun.

“Alasannya adalah, sebagai identitas sejarah perkereta apian. Penggunaan aset lahan menjadi kewenangan PT KAI. Namun jejak peninggalan kereta api di Magelang, harusndipertahankan. Meskipun bangunan dialih fungsikan, tapi seyogyanya wujud bangunan asli tetap dipertahankan,” ungkap Bagus.


Dian Nurlita

Tinggalkan Balasan