Efek Wabah Korona

TAMPAKNYA Indonesia mulai kebingungan untuk mengantisipasi menjangkitnya virus korona (Covid-19), bahkan Presiden Jokowi (2/3/2020) turun tangan hanya sekadar menginformasikan bahwa virus korona sudah mewabah di Indonesia.

Ini menunjukkan bahwa virus korona bukanlah virus yang sembarangan. Efek yang dijangkitkan virus korona tidak hanya menyerang keimunan manusia, tetapi diprediksi akan menjangkit pada bidang lain, tidak terkecuali ekonomi. Apa dampak yang ditimbulkan oleh virus korona pada perekonomian Indonesia?

Mengambinghitamkan virus korona sebagai penyebab melemahnya ekonomi Indonesia tentu bukanlah sikap yang bijaksana, karena banyak faktor lain yang bisa mengangkat ekonomi Indonesia.

Menkeu Sri Mulyani juga sudah menyatakan bahwa virus korona diramal menjadi penyebab utama melambatnya perekonomian Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan menyebut penyebaran virus korona akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan ketegangan perdagangan global. Dalam suatu ketidakpastian selalu ada hal baik di belakangnya, itu semua tergantung pada bagaimana kita merespons hal tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok (China) menurun pada Januari 2020. Jumlah ekspor ke China turun sebesar 12,07% menjadi US$ 2,24 miliar pada Januari 2020. Adapun nilai impornya terkontraksi sebesar 2,71% menjadi US$ 4 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut dampak virus korona terhadap kegiatan ekspor-impor mulai terlihat seusai Imlek. Hal ini terjadi karena kekhawatiran yang begitu besar akan terbawanya virus korona melalui barang-barang impor dari negara sumber vuirus korona yaituTiongkok.

Antisipasi Pemerintah

Pemerintah secepatnya mengantisipasi dengan menyiapkan skema guna menyiasati penangguhan sementara perdagangan Indonesia-Tiongkok dalam kondisi ini. Moratorium dengan Tiongkok dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian nasional.

Apalagi China merupakan negara importir nomor satu untuk Indonesia. Jika tidak diantisipasi, imbas ekspor-impor akan berpengaruh secara domino dari hulu hingga hilir. Jika itu terjadi yang paling dirugikan adalah petani.

Pasalnya, sampai kapan wabah virus korona akan berakhir, namun antisipasi dampak negatif harus dipersiapkan. Pelarangan keluar dan masukanya warga negara lain berimbaslangsung terhadap perekonomian Indonesia.

Pelarangan umrah dari pemerintah Arab Saudi saja membuat kebingungan karena bayang-bayang kerugian di depan mata. Belum lagi banyaknya pembatalan penerbangan dari dan ke Indonesia yang telah merontokkan sendi ekonomi parawisata.

Industri pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak penyebaran virus korona. Efek domino akan menjalar pada sektor-sektor penunjang pariwisata, seperti hotel, restoran, transportasi dan pengusaha retail.

Anjloknya okupansi atau tingkat hunian hotel hingga angka 40% membawa dampak yang cukup besar bagi kelangsungan bisnis hotel. Melemahnya pariwisata juga diprediksi berdampak pada industri retail. Meski tidak terlalu berdampak pada ketersediaan stok, efek tersebut terasa sangat signifikan darisegi transaksi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, industri retail berpotensi kehilangan omzet sebesar US$ 48 juta atau sekitar Rp 652 miliar dalam dua bulan terakhir.

Hasil perhitungan Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) menunjukkan sektor perdagangan Indonesia diprediksi akanmengalamisejumlah kontraksi. Lebih dari 495 jenis komoditas atau 13% komoditas dengan tujuan ekspor Tiongkok akan terimbas. Selain itu, 299 jenis barang impor dari China diperkirakan menyusut atau bahkan menghilang dari pasar Indonesia.

Harus ada solusi untuk menyikapi efek virus korona. Penguatan pasar dalam negeri dengan memakai produk dalam negeri sekarang ini merupakan saat yang tepat. Jika terpaksa impor harus difokuskan bahan baku yang tidak ada diIndonesia.

Ketika barang-barang impor terbatas karena terkendala virus korona, maka pemerintah harus memanfaatkan momentum virus Korona ini untuk membangkitkan kembali rasa cinta Tanah Air dengan mencintai produk- produk dalam negeri. Apalagi dalam era revolusi industri 4.0 ini banjirnya barang impor mengancam keberlangsungan produk sejenis dalam negeri.

Pemberdayaan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dapat mengatasi kodisi merana yang diderita akibat virus korona. Hampir semua kebutuhan harian masyarakat bisa disediakan oleh UMKM, namun selalu saja masyarakat memilih produk impor yang belum tentu lebih baik dari produk UMKM.

Virus korona membawa berkah bagi UMKM karena produk-produknya akan terserap oleh masyarakat. Jangan sampai Indonesia merana karena korona.


SM Network/ Dr Purwoko MM, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

1 Komentar

  1. 106822 127103Wonderful article mate, maintain the fantastic function, just shared this with ma friendz 345596

Tinggalkan Balasan