SM/Amelia Hapsari - Founder GSM, Muhammad Nur Rizal

YOGYAKARTA, SM Network – Tantangan yang dihadapi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) tidak sekedar kebutuhan terciptanya link and match. Dunia pendidikan juga perlu menemukan kembali perannya agar manusia tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan.

Hal ini diungkapkan founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal dalam webinar yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV MOE), Sabtu (23/1). Dikatakan Rizal, inisiatif yang  berasal dari atas (top down) hasilnya tidak optimal.

“Selama ini banyak upaya kebijakan dari pusat seperti K13, insentif guru, profesi guru, program Sekolah Ramah Anak, dan berbagai inisiatif lain. Tapi hasilnya tidak memberikan efek langsung dalam menghadapi era disrupsi,” ucapnya. 

Hal itu, menurut dia, dapat dilihat dari data rendahnya kualitas pendidikan Indonesia seperti kemampuan literasi, membaca, dan menghitung. Sejak tahun 2000, angkanya menunjukkan stagnan. Diukur dari OECD, kualitas pendidikan di Indonesia juga tertinggal hingga 50 tahun dari negara lain.Rizal memandang, persoalan itu bisa diurai oleh komunitas yang terlibat di dalam sektor pendidikan.

“Para pelaku pendidikan di akar rumput seperti guru, siswa, dan wali murid tidak merasa sebagai obyek, karena akan melahirkan resistensi. Sehingga ketika program selesai, proses transformasi ikut berhenti,” tukasnya.

Dia menyebut perlu adanya proses pembelajaran ekosistem baru sehingga siswa dapat menemukan potensi terbaiknya. Saat ini, dunia sedang menghadapi era disrupsi yang mampu menggeser perubahan kompetensi di masa depan. Pada era ini akan banyak pekerjaan yang hilang karena digantikan oleh robot.

Namun di lain sisi, manusia dan kehadiran teknologi kecerdasan buatan perlu hidup berdampingan. Oleh karena itu, transformasi di bidang pendidikan perlu dipersiapkan ke arah tersebut.Webinar ini diikuti oleh Dirjen Pendidikan Vokasi, Kepala BBPPMPV BOE beserta para Kepala Sekolah SMK merupakan lanjutan dari kegiatan workshop Penguatan SMK melalui GSM pada bulan November-Desember lalu.