Dukung PJJ, Desa ini Gunakan Wifi Nirkabel Pararel


MUNGKID, SM Network – Sebuah Desa di perbatasan Kabupaten Magelang DIY, tepatnya di Dusun/Desa Karangkopek Kecamatan Ngluwar kompak mendukung proses belajar anak-anak mereka yang menggunakan sistem daring. Hal tersebut dilakukan dengan cara memasang jaringan wifi internet secara nirkabel paralel di setiap rumah.

Di kampung ini, sebanyak 50 persen KK dari 100 Kepala Keluarga sudah terpasang akses wifi internet di rumahnya masing-masing. Hal ini diinisiasi oleh Subiyanto (44) seorang tokoh pemuda di desanya yang berprofesi sebagai petani. “Hal tersebut mengingat kebutuhan akan akses internet anak saat belajar cukup tinggi. Jika mengandalkan kuota handphone, memakan biaya yang tidak sedikit,” jelas Subiyanto.

Subiyanto menceritakan awal mula ide itu tercetus saat awal Puasa kemarin. Melihat kegiatan sekolah diliburkan akibat pandemi, maka para siswa diwajibkan belajar secara daring. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan jaringan internet cukup tinggi.

“Setelah ide itu muncul saya berkoordinasi dengan warga lain terkait pengadaan akses jaringan internet di kampung. Ini juga mengingat jaringan provider di smartphone di area kampung sangat susah,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia bersama timnya keliling kampung secara door to door ke rumah-rumah warga untuk menawari program pengadaan jaringan internet dengan berbasis wifi paralel. “Saat keliling sambutan warga sangat antusias. Dan dari 100 rumah penduduk, sebanyak 50 rumah atau kepala keluarga bersedia karena mayoritas memiliki anak yang masih sekolah dan butuh akses internet,” ujarnya.

Melihat respon warga bagus, maka tim tersebut langsung menghubungi pihak ketiga pengadaan jaringan internet dan instalasinya. “Kami dapat kerja sama dengan sebuah perusahaan dari Jogja untuk pengadaan semua itu. Dan jaringan internet kita bersumber dari Indihome Telkom, untuk paketnya kita tidak tahu karena sudah semua dari sana,” kata Subiyanto.

Subianto juga mengatakan bahwa pemasaangan instalasi dikerjakan mulai dari titik awal ke 50 rumah kurang lebih selama satu minggu. “Kalau tempat server, microtik dan power ada di rumah saya. Kemudian ditarik menggunakan kabel lan ke rumah-rumah warga dan diberikan TP-Link sehingga di rumah tersebut sudah ada wifinya,” imbuhnya.

Dalam proses pengadaan alat dan pemasangan instalansi, ia mengaku tidak memungut biaya. “Jadi ini juga mungkin sistem sewa alat dan perawatan instalansi. Sedangkan kecepatan internet di masing-masing rumah antara 65-72 Mbps. Untuk bandwith dibagi juga biar adil masing-masing rumah,” akunya.

Setiap rumah warga yang terpasang jaringan, tiap bulannya dikenakan biaya Rp.100 ribu. “Jadi setiap tanggal 1-5 awal bulan kita membayar ke pihak ketiga tersebut sebesar Rp 5 juta. Sudah termasuk akses jaringan internet dan perawatan alat,” ujar Subiyanto.

Dia juga menceritakan selama berjalan hampir tiga bulan ini kendala yang dialami terkadang koneksi sedikit lemot. Namun setelah dibenahi sebentar dapat pulih kembali.

“Secara teknis yang terparah saat power servernya kebakar karena mungkin tidak kuat. Jadi dari pihak ketiga atau perusahaan yang memasang itu langsung menggantinya,” terangnya.

Subianto berharap adanya akses ini bisa membantu anak-anak belajar daring atau bahkan warga yang bisnis secara online. “Ya setidaknya meningkatan perekonomian warga yang jualan online dan bisa menambah wawasan warga. Terpenting untuk belajar anak-anak dahulu, jika saat jam belajar pagi warga lain yang mungkin sedang menggunakan bandwith besar bisa berhenti dahulu agar tidak lemot,” harapnya.

Ia juga berharap agar pihak desa bisa memperhatikan program ini yang sudah berjalan di dusunnya. “Ya kemarin sudah ada obrolan terkait program-program pembengan seperti pelatihan digital dengan memaksimalkan penggunaan intertet agar bermanfaat lebih. Tetapi ya sapa tahu pihak Desa bisa memberikan subsidi pembayaran bandwith kepada warga sehingga bisa lebih ringan lagi,” tambah Subiyanto.

Sementara salah satu ibu rumah tangga setempat, Mega Kumala (38) menuturukan sangat terbantu dengan adanya akses jaringan internet tersebut. Pasalnya anaknya yang masih belajar bisa sangat terbantu.

“Sangat membantu sekali, anak saya setiap pagi belajar daring dimana dari pihak Sekolahnya memberikan link video untuk panduan belaran Luar Jaringan (Luring) dan Dalam Jaringan (Daring) di rumahnya. Biasanya beberapa anak berkumpul untuk beljar dan nonton videonya bersama,” tuturnya.

Terpenting ini bisa lebih menghemat pengeluaran kami untuk beli kuota, lanjut Mega. “Bisanya setiap bulan selama proses belajar daring ini, untuk beli kuota mencapai Rp 200-300 ribu. Dan sekarang sekarang cukup Rp 100 ribu,” tegasnya.


Dian Nurlita

6 Komentar

  1. Like!! Great article post.Really thank you! Really Cool.

  2. I always spent my half an hour to read this web site’s articles or reviews daily along with a mug of coffee.

  3. I used to be able to find good info from your blog posts.

  4. 719082 229399Some genuinely fantastic blog posts on this internet site , thankyou for contribution. 431483

Tinggalkan Balasan