Dua Pesantren di Kebumen Jadi Percontohan Tanpa Rokok

KEBUMEN, SM Network – Dua pesantren di Kebumen menjadi percontohan tanpa rokok. Masing-masing Pondok Pesantren Al Kamal Desa Tambaksari Kecamatan Kuwarasan dan Al Huda Jetis Desa Kutosari Kecamatan / Kabupaten Kebumen. Dalam waktu dekat, kedua pesantren itu akan dibuat kawasan tanpa rokok. Hal itu terungkap saat peresmian program pondok pesantren sehat dan ramah anak di Kabupaten Kebumen, Selasa (29/12). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Mexolie Kebumen itu diikuti oleh perwakilan pengurus pesantren setempat. Hadir Kepala Dinas Kesehatan Kebumen Dwi Budi Satrio, Kabag Kesra Wahid Tamam dan Kepala Kemenag Kebumen Panut.

“Dua pesantren tersebut kami ketahui telah menerapkan tanpa rokok,” kata Bupati Kebumen Yazid Mahfudz saat memberi sambutan sembari menyebut Pesantren Al Kamal merupakan milik Mantan Bupati Kebumen Muhammad Yahya Fuad, sedangkan Pesantren Al Huda miliknya. Peresmian kegiatan itu ditandai dengan pemukulan gong oleh Yazid.

Lebih lanjut orang nomor satu di Kebumen itu menekankan pentingnya menjaga kesehatan. Menurutnya, kesehatan berkorelasi dengan kemiskinan. Sehingga menjaga kesehatan dapat menekan angka kemiskinan. Di mana Kebumen saat ini masih tercatat paling miskin Se-Jateng.

“Dalam perda disebutkan tidak boleh merokok di tempat pendidikan. Termasuk pesantren sebagai lembaga pendidikan. Apalagi di rumah sakit, jelas tidak boleh. Kalau melanggar kena sanksi Rp 50 juta,” jelas Yazid. Program pondok pesantren sehat dan ramah anak itu kerjasama dengan Muhammadiyah Steps Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Supriyaningsih yang mewakili Direktor Program Muhammadiyah Steps UMY Dr Med Cond mengemukakan, dua pesantren yang mendapatkan program itu menjadi percontohan tanpa rokok. Pihaknya pun telah mendampingi sejak tahun 2017 dengan adanya Perda kawasan tanpa rokok (KTR) yang ditindaklanjuti Perdes. Saat ini sudah terdapat Perdes KTR di 35 desa. “Diharapkan ke depan meningkat lagi dan tercapai Indonesia sehat dan unggul,” terang Supriyaningsih.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan paparan oleh Ahmad Noor selaku Global Partner Research and Community Empowerment dari The Union Internasional Against Tuberculosis and Lung Disease Indonesia Consultant. Ahmad Noor menekankan agar keberadaan Perdes ATR ditindaklanjuti.

“Ini bisa jadi role model dengan lokasi Kebumen yang dekat bandara. Di samping itu jadi teladan bagi pesantren-pesantren yang lain,” ucapnya.

Sejumlah narasumber memberi paparan secara bergantian melalui virtual. Masing-masing Wahyono selaku Direktur Pendidikan Dhiniyah Pesantren pada Kemenag RI, Theresia Sandra Diah Ratih selaku Kasubdit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dan Dodi Muhammad Hidayat selaku Kepala Bidang Partisipasi Organisasi Keagamaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Tinggalkan Balasan