SM/Dananjoyo : Gunung Merapi mengalami erupsi yang ditandai dengan mengeluarkan awan panas guguran.

SLEMAN, SM Network – Sejak masuk fase erupsi pada 4 Januari 2021, Merapi masih terus mengeluarkan guguran lava pijar dan awan panas. Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan hingga Rabu (20/1) sudah ada 13 kali awan panas guguran.

Awan panas pertama kali teramati pada 7 Januari 2021 dengan frekuensi 4 kejadian dalam sehari. Selanjutnya pada tanggal 9, 13, 16, 18, 19, dan 20 Januari 2021. Masing-masing terjadi satu kali, kecuali pada tanggal 16 dan 20 Januari yang dilaporkan 2 dan 3 kali awan panas.

Tiga awan panas guguran pada Rabu (20/1) terjadi pukul 00.59, 05.12, dan 05.35 WIB. Semua mengarah ke barat daya dengan jarak luncuran paling jauh 1,8 km.

“Erupsi yang terjadi sekarang sifatnya efusif atau lelehan magma. Probabilitas ekplosif turun drastis, sekarang hanya kurang dari 20 persen,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Rabu (20/1).

Dia mengatakan, jarak luncuran awan panas saat ini masih tergolong rendah. Namun begitu, masyarakat tetap diminta waspada. Luncuran bisa bertambah jauh karena sudah ada jalur hasil bentukan awan panas sebelumnya.

Adapun kubah lava baru yang terbentuk pada fase erupsi 2021, volumenya masih sekitar 85.000 meter kubik. Laju pertumbuhan kubah rata-rata 8.000 meter kubik per hari. Menurut Hanik, rate itu termasuk rendah dibanding periode erupsi sebelumnya yang bisa mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu meter kubik.

Sementara hasil pantauan terhadap gundukan yang berada di tengah kawah, sejauh ini tidak menunjukkan perkembangan. Sebelumnya, berdasar citra satelit teramati adanya dua gundukan di kawah Merapi. Satu gundukan berada di pinggir bibir kawah lava1997 yang kemudian tumbuh menjadi kubah lava baru. Gundukan lainnya terlihat di tengah kawah.