SM/Raditia Yoni Ariya - BERBAGI PENGALAMAN: Maestro etnografi Don Hasman berbagi pengalaman dengan para fotografer muda di Angkringa Balakosa Temanggung belum lama ini.

Kendati telah menyandang gelar maestro fotografi dengan spesialisasi pada etnofotogari, namun sosok Don Hasman (80), tetaplah bersahaja, murah senyum dan tidak pelit soal berbagi ilmu dan pengalaman selama puluhan tahun menjadi fotografer. Buah ketekunan dan kecintaan pada fotografi pun telah menghantarkannya masuk predikat 100 Famous Fotografer In The World dari Pemerintah Perancis.

Perbincangan Suara Merdeka dengan Om Don, begitu dia akrab disapa, begitu hangat dan dari setiap tutur kata menggambarkan dia sosok yang rendah hati, serta menghargai lawan bicaranya, bahkan tak memandang profesi, derajat, atau pangkat. Ditemui di Angkringan Balakosa Temanggung beberapa waktu lalu, dia pun menceritakan pengalamannya, sembari berbagi tips mengapa dia memilih jalan hidup sebagai etnofotografer yang notabene tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah seperti fotografer profesional lain.

Etnofotografi sendiri secara harfiah adalah cabang fotografi yang mengkaji antropologi sosial, dengan menekankan makna dari ekspresi budaya yang tertangkap melalui lensa foto. Maka setiap foto yang ada digunakan untuk penelitian antropologi. Tak cukup sehari dua hari, tapi seorang etnofotografer bisa menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menyelesaikan proyek penelitiannya, sebab diperlukan observasi dan wawancara, serta pendekatan-pendekatan kultural lainnya.

Hal ini pula yang kemudian menghantarkan Don Hasman menjadi sangat akrab dengan orang-orang dari suku Baduy di pedalaman Jawa Barat. Bahkan, dia merupakan satu-satunya orang luar yang kedatangannya selalu dinanti-nantikan oleh orang Baduy. Tentu hal ini sangat istimewa, karena tidak sembarangan orang bisa masuk di perkampungan Baduy yang masih memegang adat sangat kuat.

Bayangkan, untuk membina kepercayaan dengan orang Baduy saja Om Don butuh waktu 8 tahun ditekuni dengan keluar masuk wilayah Baduy. Sampai saat ini sudah 45 tahun dia sudah bergaul dengan orang Baduy dan dihitungnya sudah lebih dari 600-an kali dia masuk ke perkampungan mereka dan berada di dalamnya serasa menjadi kampung halaman kedua baginya.

Bahkan, dia menjadi satu-satunya orang luar yang diperbolehkan datang kapan saja, kecuali 11 waktu khusus di mana orang Baduy sedang menggelar upacara adat. Berkat obrolan dan menampung berbagai keluh kesah maka Don sangat dipercaya, terutama kedatangannya sangat dinanti untuk memberikan kabar dari BMKG terkait prakiraan cuaca sebagai patokan orang Baduy untuk panduan bercocok tanam padi sebagai masyarakat agraris.

Hal itu, digambarkan Don dengan sangat terperinci kapan turun hujan, termasuk jam nya. Pada tanggal 13 Oktober 2007 perkataan Don menjadi kenyataan dari apa yang diomongkannya satu setengah bulan sebelum kejadian, yakni pada tanggal tersebut pukul 12.30 hujan akan turun tepat di Hari Lebaran.

“Kenapa saya menekuni etnofografi, ya alasannya sederhana kalau bukan saya lantas siapa lagi yang mau berkorban, mumpung saya masih bisa melakukan hal ini. Tidak mudah menggeluti etnofotografi karena butuh waktu lama, seperti di Baduy saya butuh waktu sekitar 37 tahun. Satu lagi di etnofotografi itu tidak ada duitnya, tapi untuk Baduy ini secara khusus saya mengabdi untuk ilmu pengetahuan,”katanya kepada Suara Merdeka dengan mimik serius.

Hasilnya, kini telah teruang dalam sebuah buku karyanya berjudul “Urang Kanekes: Baduy People”. Kehidupan Baduy telah lama menarik perhatian Om Don, sebab meski dalam keterasingan tapi orang-orang Baduy memiliki kejujuran yang dikatakan 99,9 persen, bahkan hanya untuk sekadar memindahkan seonggok batu dari tempatnya saja tidak mereka lakukan.

Maka Baduy itu seperti sebuah ensiklopedia hidup yang indah, bahkan mungkin tidak ada suku seperti ini di dunia. Baginya memasuki suku Baduy bagaikan masuk ke dalam peradaban yang sangat tua, jauh lebih tua daripada peradaban Hindu di Indonesia.

Arstitekturnya berupa pundek berundak, kalender masa tanam pun masih mengandalkan rasi bintang. Adapun peralatan dapur masih menggunakan bambu, tungku, dan kayu bakar untuk memasak. “Etnofotografi itu merupakan yang tersulit di bidang fotografi karena memang memerlukan waktu dan pengorbanan, serta biaya itu paling besar, paling lama dan paling berat, sementara imbalannya tidak ada, hasilnya tidak bisa dijual.

Makanya kalau mau jadi seorang etnofotografer kalau tidak tahan banting, tidak punya waktu banyak 10 sampai 20 tahun atau lebih jangan terjun ke situ karena akan sia-sia,”katanya. Selain di Baduy, Don juga telah menjejakkan kakinya ke berbagai negara di belahan dunia ini. Malah dia merupakan orang Indonesia pertama yang menjelajah pegunungan Himalaya, menjelajah seluruh kabupaten dan provinsi di Indonesia.

Dan menjadi seorang etnofotografer adalah sebuah prestisius karena akan menjadi satu dari 700-an orang etnofotografer dari jumlah populasi 6000 manusia di dunia ini.


Raditia Yoni Ariya/Kim

1 KOMENTAR